Rahmat Wibowo membandingkan Ibrahim Arief (digambarkan secara positif sebagai pemimpin teknologi yang patriotik) dengan Abigail Aryaputra Sudarman (dituduh memalsukan credential dan menjalankan sekolah Al tanpa akreditasi), menggunakan perbandingan ini untuk mengkritik ekosistem teknologi Indonesia karena gagal memverifikasi credential dan melindungi talenta sejati.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo membandingkan Ibrahim Arief (digambarkan secara positif sebagai pemimpin teknologi yang patriotik) dengan Abigail Aryaputra Sudarman (dituduh memalsukan credential dan menjalankan sekolah Al tanpa akreditasi), menggunakan perbandingan ini untuk mengkritik ekosistem teknologi Indonesia karena gagal memverifikasi credential dan melindungi talenta sejati.

Transkrip

Tepat ketika Anda pikir dunia teknologi Indonesia tidak bisa lebih ironis lagi. Di satu sisi: Ibrahim Arief (Ibam) — seorang CTO yang teruji dan mantan VP Engineering di Bukalapak. Seorang pria dengan pengalaman nyata membesarkan unicorn dan membangun sistem yang benar-benar berfungsi. Ia menerima tawaran dari Meta London (jenis tawaran yang hanya bisa diimpikan sebagian besar engineer). Tapi ia menolaknya. Mengapa? Karena ia memilih untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi untuk negara yang ia cintai. Hari ini, alih-alih menikmati posisi bergaji tinggi di London, ia menghadapi ancaman penjara dalam kasus Chromebook — sebagai konsultan yang tidak memiliki wewenang apa pun atas keputusan pengadaan. Seorang patriot yang mengorbankan jutaan untuk tanah air, kini dikriminalisasi. Di sisi lain: Abil Sudarman — yang mengaku sebagai "ahli Al" dan pendiri ASSAI (Abil Sudarman School of Artificial Intelligence). Di Linkedin dan profil publiknya ia dengan bangga menyatakan: Lulusan University of London (AML Computer Science) Peneliti yang telah dipublikasikan Tokoh pemikir Al, direktur di KORIKA, pembicara, dll. Realitas (yang kini terungkap): X hanya lulusan SMA X drop out dari BINUS ONLINE Tidak ada riwayat pekerjaan profesional di bidang teknologi >< Menjalankan "sekolah Al" tanpa akreditasi sambil membebankan biaya kepada murid Dua kisah yang sangat berbeda. Satu orang dengan keahlian sejati yang memilih Indonesia dan kini membayar harganya. Satu lagi yang membangun seluruh personal brand dan bisnisnya di atas credential yang direkayasa. Ini bukan hanya tentang dua individu. Ini tentang ekosistem yang sedang kita bangun ~ Apakah kita memverifikasi credential dengan benar sebelum memberikan platform, pendanaan, atau akses pemerintah? = Mengapa talenta sejati yang berkorban untuk negara justru dihukum, sementara penipu berkembang subur secara terang-terangan? = Berapa banyak lagi "ahli Al" dengan gelar palsu University of London yang ada di luar sana mengajar generasi penerus kita? Indonesia layak mendapatkan yang lebih baik. Kita punya talenta kelas dunia. Kita tidak butuh prestise impor atau CV yang direkayasa. Kita butuh integritas, verifikasi, dan perlindungan bagi mereka yang benar-benar memberikan hasil. Apa pendapat Anda? Haruskah Linkedin dan komunitas teknologi mulai menuntut bukti pendidikan dan pengalaman sebelum seseorang bisa memposisikan dirinya sebagai seorang "ahli"? Tuliskan pendapat Anda di bawah. Mari kita bicarakan hal ini secara terbuka. Mark Zuckerberg INA Digital Edu ASSAI. Hammam Riza #Techindonesia #AICredibility #Talentindonesia #IntegrityinTech #CredentialFraud #MetaLondon #ibamArief #Kawallbam