Rahmat Wibowo menuduh Ibrahim Arief menggunakan air mata, retorika agama, dan Al yang tidak bisa diaudit untuk menghindari akuntabilitas hukum, padahal sebelumnya ia sendiri telah menghancurkan karier orang lain lewat blacklist, namun Rahmat Wibowo sendiri rutin menggunakan Al untuk menghasilkan konten slop sebagai sarana untuk melecehkan orang lain.
| ID | ev-20260521-001 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Giri Kuncoro Imre Nagi |

Transkrip
Ada pola yang lucu setiap kali sosok berkuasa
akhirnya mencium bau konsekuensi hukum yang
sesungguhnya.
Bukan saat skandal itu muncul. Tapi tepat
pada detik akuntabilitas menjadi tak
terhindarkan.
Skripnya tidak pernah berubah:
Menangis di TV nasional sebelum ada putusan.
Memohon grasi presiden bahkan sebelum
putusan ditulis. Menyebut nama Allah seolah
medan kekuatan suci. Lalu mengeluarkan Al
yang tertutup, dengan prompt rahasia, dan
sama sekali tidak bisa diaudit untuk
"membuktikan" ketidakbersalahan mereka.
Contoh puncaknya? Ibrahim Arief, juara tak
tertandingi dalam bermain korban. Air mata
mengalir, reputasi hancur berkeping-keping
oleh semua orang kecuali mereka yang
kariernya diam-diam ia hancurkan dan
diblacklist bertahun-tahun. Sekarang tiba-tiba
dia jadi santo yang teraniaya, membungkus
dirinya dengan kesalehan sementara bukti-
bukti tertawa di latar belakang.
Al yang tidak bisa diaudit bukanlah keadilan.
Itu cermin yang hanya menunjukkan apa yang
ingin ditunjukkan oleh operatornya kepada
Anda.
Dan balutan agamanya? Komedi murni. Iman
bukan perisai hukum. Semakin keras mereka
berteriak "Rahmatan lil alamin," semakin
keras pula seharusnya kau menyelidiki.
Keadilan tidak butuh sinisme. Ia butuh mata
yang menolak berkedip tak peduli seberapa
keras pertunjukan itu berlangsung.
Di InfraLoka, kami membangun Al untuk
mengungkap kekuasaan. Bukan melindunginya.
Rahmatan lil alamin.
Ainun Naji
Imre Nagi
Ecommurz
INA Digital Edu Giri Kuncoro
#MediaLiteracy #AlEthics #Accountability
#Infraloka #indonesia