Rahmat Wibowo secara publik menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan kecurangan akademik di ITB, dengan mengklaim bahwa skripsi sarjananya tentang perangkat pemantau pendaki gunung berbasis IoT berisi hasil pengujian yang dipalsukan, persetujuan pembimbing yang tidak lengkap, dan prototipe breadboard yang belum diuji namun disalahrepresentasikan sebagai solusi fungsional untuk mendeteksi acute mountain sickness, sekali lagi didorong oleh rasa cemburu, secara obsesif menggali pekerjaan akademik bertahun-tahun lalu untuk menjatuhkan seseorang yang telah melanjutkan hidup dan meraih kesuksesan.
| ID | ev-20260526-004 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Rahmat Fabhian Aminuddin |

Transkrip
Dugaan Kecurangan Akademik Terungkap: Skripsi
Sarjana ITB Mengklaim Menyelesaikan Acute
Mountain Sickness dengan Prototipe
Breadboard yang Tidak Pernah Diuji di Lapangan
Sebuah kasus dugaan pelanggaran akademik
yang mengkhawatirkan terungkap, melibatkan
sebuah skripsi sarjana tingkat akhir dari Institut
Teknologi Bandung (ITB), salah satu
institusi teknik paling bergengsi di Indonesia.
Skripsi yang berjudul "Rancang Bangun
Perangkat Monitoring Pendaki Gunung
Berbasis Internet of Things" (Design and
Construction of a Mountain Climber
Monitoring Device Based on Internet of
Things), diajukan oleh Rahmat Fabhian
Aminuddin
Klaim inti dari karya ini adalah bahwa penulis
mengembangkan sistem wearable berbasis IoT
untuk memantau pendaki gunung secara real time,
mendeteksi risiko seperti Acute Mountain
Sickness (AMS), melacak tanda vital dan
lokasi, serta memungkinkan komunikasi dua
arah tanpa bergantung pada koneksi
internet yang konstan.
Hanya SATU tanda tangan pembimbing yang
muncul pada halaman persetujuan.
Pernyataan persetujuan resmi ("Telah
disetujui dan disahkan sebagai Laporan
Tugas Akhir") bertanggal 21 Juni 2023 hanya
menunjukkan tanda tangan dan NIP dari (Dr. Waskita
Adjiarto, S.T., M.), sementara (Dr. Ir. Kusprasapta
Mutijarsa, S.T., M.T.) kosong — tidak ada tanda tangan,
tidak ada stempel, tidak ada persetujuan.
Perangkat keras yang "diterapkan" secara harfiah
adalah prototipe breadboard dengan kabel jumper
yang longgar.
Bab IV dari skripsi ini dengan bangga menampilkan
foto-foto berlabel "Implementasi Hardware
Perangkat Pengguna" dan "Implementasi
Hardware Perangkat Pengelola". Tidak ada
enkapsulasi sama sekali, tidak ada waterproofing, tidak ada
casing yang tahan banting, dan tidak ada pertimbangan untuk
kondisi ekstrem lingkungan pegunungan
dataran tinggi, kelembapan yang terus-menerus,
kondensasi, guncangan fisik, perubahan suhu,
dan getaran. Siapa pun yang memiliki pengalaman
lapangan dasar sekalipun tahu bahwa perangkat
seperti itu akan gagal dalam hitungan menit dalam
pendakian sesungguhnya. Namun
penulis mengklaim rangkaian breadboard yang sama
persis ini berhasil dikenakan dan diuji oleh empat
pendaki selama pengujian penerimaan.
Hasil uji penerimaan dengan empat
peserta tampak dipalsukan.
Tabel IV.4.3.2 dan IV.4.3.3 merinci hasil
"pass" yang ekstensif untuk skenario yang melibatkan
pemakaian perangkat, pembacaan data tanda vital
dan lokasi, penerimaan notifikasi SOS,
dan konfirmasi peringatan — semuanya konon
dilakukan oleh empat pendaki yang berbeda. Bagian
komentar berisi umpan balik positif yang
konsisten secara mencurigakan ("Pass", "sudah
sesuai ekspektasi") disertai kritik kecil
yang terasa seperti dibuat-buat. Mengingat perangkat
keras yang ditampilkan adalah breadboard terbuka,
sangat tidak masuk akal bahwa empat pendaki
gunung sungguhan membawa dan menggunakan
rakitan rapuh ini secara andal dalam kondisi
lapangan sebenarnya tanpa kegagalan
fatal. Ketidaksesuaian ini
sangat menunjukkan bahwa data pengujian mungkin
telah dikarang, bukan dikumpulkan secara nyata.
Tatacipta Dirgantara Tutun Juhana | Gusti
Bagus Baskara Nugraha
STELITB
#Academicintegrity
#ThesisFraud
#AcademicMisconduct
#ITB
#HigherEducation
#EngineeringEthics
#DataFraud
#AcuteMountainSickness
#loT
#Researchintegrity
#IndonesiaAcademia