Rahmat Wibowo secara publik menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan kecurangan akademik di ITB, dengan mengklaim bahwa skripsi sarjananya tentang perangkat pemantau pendaki gunung berbasis IoT berisi hasil pengujian yang dipalsukan, persetujuan pembimbing yang tidak lengkap, dan prototipe breadboard yang belum diuji namun disalahrepresentasikan sebagai solusi fungsional untuk mendeteksi acute mountain sickness, sekali lagi didorong oleh rasa cemburu, secara obsesif menggali pekerjaan akademik bertahun-tahun lalu untuk menjatuhkan seseorang yang telah melanjutkan hidup dan meraih kesuksesan.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo secara publik menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan kecurangan akademik di ITB, dengan mengklaim bahwa skripsi sarjananya tentang perangkat pemantau pendaki gunung berbasis IoT berisi hasil pengujian yang dipalsukan, persetujuan pembimbing yang tidak lengkap, dan prototipe breadboard yang belum diuji namun disalahrepresentasikan sebagai solusi fungsional untuk mendeteksi acute mountain sickness, sekali lagi didorong oleh rasa cemburu, secara obsesif menggali pekerjaan akademik bertahun-tahun lalu untuk menjatuhkan seseorang yang telah melanjutkan hidup dan meraih kesuksesan.

Transkrip

Dugaan Kecurangan Akademik Terungkap: Skripsi Sarjana ITB Mengklaim Menyelesaikan Acute Mountain Sickness dengan Prototipe Breadboard yang Tidak Pernah Diuji di Lapangan Sebuah kasus dugaan pelanggaran akademik yang mengkhawatirkan terungkap, melibatkan sebuah skripsi sarjana tingkat akhir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu institusi teknik paling bergengsi di Indonesia. Skripsi yang berjudul "Rancang Bangun Perangkat Monitoring Pendaki Gunung Berbasis Internet of Things" (Design and Construction of a Mountain Climber Monitoring Device Based on Internet of Things), diajukan oleh Rahmat Fabhian Aminuddin Klaim inti dari karya ini adalah bahwa penulis mengembangkan sistem wearable berbasis IoT untuk memantau pendaki gunung secara real time, mendeteksi risiko seperti Acute Mountain Sickness (AMS), melacak tanda vital dan lokasi, serta memungkinkan komunikasi dua arah tanpa bergantung pada koneksi internet yang konstan. Hanya SATU tanda tangan pembimbing yang muncul pada halaman persetujuan. Pernyataan persetujuan resmi ("Telah disetujui dan disahkan sebagai Laporan Tugas Akhir") bertanggal 21 Juni 2023 hanya menunjukkan tanda tangan dan NIP dari (Dr. Waskita Adjiarto, S.T., M.), sementara (Dr. Ir. Kusprasapta Mutijarsa, S.T., M.T.) kosong — tidak ada tanda tangan, tidak ada stempel, tidak ada persetujuan. Perangkat keras yang "diterapkan" secara harfiah adalah prototipe breadboard dengan kabel jumper yang longgar. Bab IV dari skripsi ini dengan bangga menampilkan foto-foto berlabel "Implementasi Hardware Perangkat Pengguna" dan "Implementasi Hardware Perangkat Pengelola". Tidak ada enkapsulasi sama sekali, tidak ada waterproofing, tidak ada casing yang tahan banting, dan tidak ada pertimbangan untuk kondisi ekstrem lingkungan pegunungan dataran tinggi, kelembapan yang terus-menerus, kondensasi, guncangan fisik, perubahan suhu, dan getaran. Siapa pun yang memiliki pengalaman lapangan dasar sekalipun tahu bahwa perangkat seperti itu akan gagal dalam hitungan menit dalam pendakian sesungguhnya. Namun penulis mengklaim rangkaian breadboard yang sama persis ini berhasil dikenakan dan diuji oleh empat pendaki selama pengujian penerimaan. Hasil uji penerimaan dengan empat peserta tampak dipalsukan. Tabel IV.4.3.2 dan IV.4.3.3 merinci hasil "pass" yang ekstensif untuk skenario yang melibatkan pemakaian perangkat, pembacaan data tanda vital dan lokasi, penerimaan notifikasi SOS, dan konfirmasi peringatan — semuanya konon dilakukan oleh empat pendaki yang berbeda. Bagian komentar berisi umpan balik positif yang konsisten secara mencurigakan ("Pass", "sudah sesuai ekspektasi") disertai kritik kecil yang terasa seperti dibuat-buat. Mengingat perangkat keras yang ditampilkan adalah breadboard terbuka, sangat tidak masuk akal bahwa empat pendaki gunung sungguhan membawa dan menggunakan rakitan rapuh ini secara andal dalam kondisi lapangan sebenarnya tanpa kegagalan fatal. Ketidaksesuaian ini sangat menunjukkan bahwa data pengujian mungkin telah dikarang, bukan dikumpulkan secara nyata. Tatacipta Dirgantara Tutun Juhana | Gusti Bagus Baskara Nugraha STELITB #Academicintegrity #ThesisFraud #AcademicMisconduct #ITB #HigherEducation #EngineeringEthics #DataFraud #AcuteMountainSickness #loT #Researchintegrity #IndonesiaAcademia