Rahmat Wibowo menuduh Marchel Shevchenko secara palsu mengklaim gelar dan kredensial MIT di LinkedIn padahal sebenarnya hanya menyelesaikan program online singkat, serta menyalahartikan status aslinya sebagai mahasiswa S1 yang belum lulus di Indonesia.
| ID | ev-20260527-002 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Marchel Shevchenko |

Transkrip
B Penipuan Kredensial + Efek Dunning-Kruger
yang Terpampang Jelas: Sebuah Pengumuman
Layanan Publik
[Saya] jarang membuat call-out, tapi ketika seseorang
secara aktif menyesatkan komunitas teknologi dan
riset Indonesia — terutama mahasiswa
dan perekrut — hal ini perlu diungkap.
Ini adalah profil LinkedIn publik dari Marchel
Shevchenko (juga tercantum sebagai Marchel Andrian
Shevchenko) dari Data Sorcerers:
Dia mempromosikan dirinya sebagai "Research Student in
Computer Vision | MLLM | Digital Humanities"
di Massachusetts Institute of Technology
(MIT) — Sep 2024 hingga Sekarang.
Bagian pendidikannya mencantumkan: Massachusetts
Institute of Technology, Universiti Kuala
Lumpur (BS Analytical Economics), Institut
Teknologi Bandung, Universitas Gadjah
Mada, University of Zagreb / Sveučilište u
Zagrebu (Erasmus), dll.
Dia memiliki 3.698+ pengikut dan mengumpulkan
"koneksi bersama" sambil menjalani magang jarak
jauh.
Berikut fakta-fakta yang dapat diverifikasi:
Satu-satunya gelar nyata dan dapat diverifikasi yang sedang
ditempuhnya adalah S1
Informatika di Universitas Teknologi
Yogyakarta (UTY).
NIM: 5200411552
Tanggal masuk: 22 September 2020
Status saat ini (2026): Aktif ~ 2025/2026
Ganjil
Setelah hampir 6 tahun, dia masih belum
lulus.
"Universitas" lainnya hanyalah program pertukaran
pelajar singkat, kursus online, atau
aktivitas non-gelar. Dia tidak
mengungkapkan hal ini dan menampilkannya sebagai
kredensial penuh.
Tidak ada bukti sama sekali bahwa dia adalah atau pernah
menjadi mahasiswa riset formal di MIT.
Satu-satunya koneksinya adalah memenangkan juara ke-2 dalam
kompetisi Bio Farma X MIT Hacking Medicine
tingkat nasional di Indonesia (bukan
program MIT internasional)
Tidak ada catatan pendaftaran MIT.
Tidak ada makalah yang dipublikasikan.
Tidak ada jurnal.
Tidak ada nama pembimbing.
Tidak ada hasil riset.
Tidak ada apa pun.
Dia menggunakan logo MIT, gelar "Research
Student", dan daftar panjang institusi yang terdengar
bergengsi untuk menciptakan citra palsu sebagai
peneliti kelas atas, padahal dia masih
seorang mahasiswa S1 tahun ke-6 yang bahkan belum
menyelesaikan S1-nya.
Ini adalah contoh klasik Dunning-Kruger yang
digabungkan dengan inflasi kredensial yang disengaja dan
mendekati penipuan profesional. Hal ini membuang-buang
waktu semua orang — perekrut yang mempercayai
profilnya, mahasiswa yang terinspirasi oleh panutan
palsu, dan peneliti sungguhan yang benar-benar
meraih posisi mereka.
Transparansi itu penting.
Pencapaian yang dapat diverifikasi itu penting.
Menyelesaikan gelar sebelum menyebut diri sendiri
"Research Student at MIT" itu penting.
Jika kamu adalah mahasiswa, perekrut, atau founder di
Indonesia — lakukan due diligence.
Periksa PDDikti, Google Scholar, ORCID,
transkrip resmi, dan catatan publikasi
sebenarnya.
Gelar dan logo yang mencolok tidak berarti apa-apa tanpa
bukti.
Mari kita jaga kejujuran dunia teknologi Indonesia.
#Professionalintegrity #CredentialFraud
#Dunningkruger #Techindonesi
#HigherEducation #BeHonest