Rahmat Wibowo menuduh Marchel Shevchenko secara palsu mengklaim gelar dan kredensial MIT di LinkedIn padahal sebenarnya hanya menyelesaikan program online singkat, serta menyalahartikan status aslinya sebagai mahasiswa S1 yang belum lulus di Indonesia.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo menuduh Marchel Shevchenko secara palsu mengklaim gelar dan kredensial MIT di LinkedIn padahal sebenarnya hanya menyelesaikan program online singkat, serta menyalahartikan status aslinya sebagai mahasiswa S1 yang belum lulus di Indonesia.

Transkrip

B Penipuan Kredensial + Efek Dunning-Kruger yang Terpampang Jelas: Sebuah Pengumuman Layanan Publik [Saya] jarang membuat call-out, tapi ketika seseorang secara aktif menyesatkan komunitas teknologi dan riset Indonesia — terutama mahasiswa dan perekrut — hal ini perlu diungkap. Ini adalah profil LinkedIn publik dari Marchel Shevchenko (juga tercantum sebagai Marchel Andrian Shevchenko) dari Data Sorcerers: Dia mempromosikan dirinya sebagai "Research Student in Computer Vision | MLLM | Digital Humanities" di Massachusetts Institute of Technology (MIT) — Sep 2024 hingga Sekarang. Bagian pendidikannya mencantumkan: Massachusetts Institute of Technology, Universiti Kuala Lumpur (BS Analytical Economics), Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, University of Zagreb / Sveučilište u Zagrebu (Erasmus), dll. Dia memiliki 3.698+ pengikut dan mengumpulkan "koneksi bersama" sambil menjalani magang jarak jauh. Berikut fakta-fakta yang dapat diverifikasi: Satu-satunya gelar nyata dan dapat diverifikasi yang sedang ditempuhnya adalah S1 Informatika di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). NIM: 5200411552 Tanggal masuk: 22 September 2020 Status saat ini (2026): Aktif ~ 2025/2026 Ganjil Setelah hampir 6 tahun, dia masih belum lulus. "Universitas" lainnya hanyalah program pertukaran pelajar singkat, kursus online, atau aktivitas non-gelar. Dia tidak mengungkapkan hal ini dan menampilkannya sebagai kredensial penuh. Tidak ada bukti sama sekali bahwa dia adalah atau pernah menjadi mahasiswa riset formal di MIT. Satu-satunya koneksinya adalah memenangkan juara ke-2 dalam kompetisi Bio Farma X MIT Hacking Medicine tingkat nasional di Indonesia (bukan program MIT internasional) Tidak ada catatan pendaftaran MIT. Tidak ada makalah yang dipublikasikan. Tidak ada jurnal. Tidak ada nama pembimbing. Tidak ada hasil riset. Tidak ada apa pun. Dia menggunakan logo MIT, gelar "Research Student", dan daftar panjang institusi yang terdengar bergengsi untuk menciptakan citra palsu sebagai peneliti kelas atas, padahal dia masih seorang mahasiswa S1 tahun ke-6 yang bahkan belum menyelesaikan S1-nya. Ini adalah contoh klasik Dunning-Kruger yang digabungkan dengan inflasi kredensial yang disengaja dan mendekati penipuan profesional. Hal ini membuang-buang waktu semua orang — perekrut yang mempercayai profilnya, mahasiswa yang terinspirasi oleh panutan palsu, dan peneliti sungguhan yang benar-benar meraih posisi mereka. Transparansi itu penting. Pencapaian yang dapat diverifikasi itu penting. Menyelesaikan gelar sebelum menyebut diri sendiri "Research Student at MIT" itu penting. Jika kamu adalah mahasiswa, perekrut, atau founder di Indonesia — lakukan due diligence. Periksa PDDikti, Google Scholar, ORCID, transkrip resmi, dan catatan publikasi sebenarnya. Gelar dan logo yang mencolok tidak berarti apa-apa tanpa bukti. Mari kita jaga kejujuran dunia teknologi Indonesia. #Professionalintegrity #CredentialFraud #Dunningkruger #Techindonesi #HigherEducation #BeHonest