Rahmat Wibowo menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan pelecehan online, masalah integritas akademik, dan ketidakmampuan profesional, dengan mengutip dugaan perilaku akun anonim, skor penilaian perekrutan yang buruk, dan kekhawatiran tentang skripsi sarjananya dari ITB.
| ID | ev-20260528-002 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Rahmat Fabhian Aminuddin |

Transkrip
Studi Kasus tentang Akuntabilitas Digital,
Integritas Profesional & Uji Tuntas dalam Teknologi
Baru-baru ini, sebuah situasi yang melibatkan Rahmat
Fabhian Aminuddin telah memicu diskusi
signifikan di berbagai platform mengenai perilaku
online, kesiapan profesional, dan
klaim akademik.
Apa yang dimulai sebagai akun anonim X/Twitter
(@dombolord
| @dombolort
) yang diduga melakukan refresh video berulang kali
dan komentar yang tidak pantas
terhadap seorang content creator asal Taiwan kini telah
dikaitkan dengan identitas asli melalui
self-doxxing (tangkapan layar dari Google Meet,
log panggilan, dan foto pribadi). Tindakan semacam ini
dilaporkan termasuk dalam Pasal 305 Taiwan,
(stalking/pelecehan) dan pasal-pasal
KUHP Indonesia yang relevan.
Di luar perilaku online tersebut, sebuah penilaian
kesiapan perekrutan yang detail menggunakan kerangka
AWS Leadership Principles mengevaluasi
Rahmat untuk posisi setingkat Solutions Architect
dan memberikan rating keseluruhan 3,2-4,2/10. Penilaian
tersebut menyoroti kesenjangan kritis dalam
Ownership, Dive Deep, Deliver Results,
pengambilan keputusan arsitektural, testing,
keamanan, dan kesiapan operasional — bersama
dengan tidak adanya portofolio teknis publik yang
berarti atau dampak bisnis yang terbukti.
Selain itu, muncul pertanyaan
tentang skripsi sarjananya dari Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang berjudul "Rancang
Bangun Perangkat Monitoring Pendaki
Gunung Berbasis Internet of Things."
Kekhawatiran meliputi:
Hanya satu tanda tangan pembimbing pada
halaman persetujuan
Penggunaan prototipe breadboard yang terbuka (tanpa
casing yang kokoh atau desain siap lapangan)
Hasil pengujian penerimaan dengan pendaki gunung
yang diduga direkayasa
Perkembangan ini menjadi pengingat yang kuat
bahwa:
Akun anonim tidak bebas dari konsekuensi,
terutama lintas negara.
Jejak digital itu penting, apa yang kita posting, bagaimana
kita berperilaku online, dan apa yang kita klaim
secara profesional dapat diteliti.
Uji tuntas dalam perekrutan lebih dari sekadar CV dan
wawancara. Karya teknis publik, dampak proyek
nyata, dan perilaku pribadi semakin
menjadi bagian dari evaluasi.
Transparansi dan integritas bukanlah opsional dalam
industri teknologi, keduanya adalah fondasi.
Kepada semua hiring manager, recruiter, dan profesional
teknologi: Apakah Anda pernah menemukan kesenjangan
serupa antara persona online dan kapabilitas
profesional yang sebenarnya? Seberapa penting
jejak digital publik kandidat dan
karya yang terbukti dalam proses
evaluasi Anda?
Saya ingin mendengar pendapat Anda di
kolom komentar.
Rahmat Fabhian Aminuddin Andy Jassy
Matt Garman Jeff Johnson Huajia Ma
Hussein Mohd Ali
Institut Teknologi Bandung Tatacipta
Dirgantara Tutun Juhana | Gusti Bagus
Baskara Nugraha
‘#DigitalAccountability
#Professionalintegrity #TechHiring
#DueDiligence #Academicintegrity #AWS
#CloudComputing