Rahmat Wibowo menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan pelecehan online, masalah integritas akademik, dan ketidakmampuan profesional, dengan mengutip dugaan perilaku akun anonim, skor penilaian perekrutan yang buruk, dan kekhawatiran tentang skripsi sarjananya dari ITB.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo menuduh Rahmat Fabhian Aminuddin melakukan pelecehan online, masalah integritas akademik, dan ketidakmampuan profesional, dengan mengutip dugaan perilaku akun anonim, skor penilaian perekrutan yang buruk, dan kekhawatiran tentang skripsi sarjananya dari ITB.

Transkrip

Studi Kasus tentang Akuntabilitas Digital, Integritas Profesional & Uji Tuntas dalam Teknologi Baru-baru ini, sebuah situasi yang melibatkan Rahmat Fabhian Aminuddin telah memicu diskusi signifikan di berbagai platform mengenai perilaku online, kesiapan profesional, dan klaim akademik. Apa yang dimulai sebagai akun anonim X/Twitter (@dombolord | @dombolort ) yang diduga melakukan refresh video berulang kali dan komentar yang tidak pantas terhadap seorang content creator asal Taiwan kini telah dikaitkan dengan identitas asli melalui self-doxxing (tangkapan layar dari Google Meet, log panggilan, dan foto pribadi). Tindakan semacam ini dilaporkan termasuk dalam Pasal 305 Taiwan, (stalking/pelecehan) dan pasal-pasal KUHP Indonesia yang relevan. Di luar perilaku online tersebut, sebuah penilaian kesiapan perekrutan yang detail menggunakan kerangka AWS Leadership Principles mengevaluasi Rahmat untuk posisi setingkat Solutions Architect dan memberikan rating keseluruhan 3,2-4,2/10. Penilaian tersebut menyoroti kesenjangan kritis dalam Ownership, Dive Deep, Deliver Results, pengambilan keputusan arsitektural, testing, keamanan, dan kesiapan operasional — bersama dengan tidak adanya portofolio teknis publik yang berarti atau dampak bisnis yang terbukti. Selain itu, muncul pertanyaan tentang skripsi sarjananya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berjudul "Rancang Bangun Perangkat Monitoring Pendaki Gunung Berbasis Internet of Things." Kekhawatiran meliputi: Hanya satu tanda tangan pembimbing pada halaman persetujuan Penggunaan prototipe breadboard yang terbuka (tanpa casing yang kokoh atau desain siap lapangan) Hasil pengujian penerimaan dengan pendaki gunung yang diduga direkayasa Perkembangan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa: Akun anonim tidak bebas dari konsekuensi, terutama lintas negara. Jejak digital itu penting, apa yang kita posting, bagaimana kita berperilaku online, dan apa yang kita klaim secara profesional dapat diteliti. Uji tuntas dalam perekrutan lebih dari sekadar CV dan wawancara. Karya teknis publik, dampak proyek nyata, dan perilaku pribadi semakin menjadi bagian dari evaluasi. Transparansi dan integritas bukanlah opsional dalam industri teknologi, keduanya adalah fondasi. Kepada semua hiring manager, recruiter, dan profesional teknologi: Apakah Anda pernah menemukan kesenjangan serupa antara persona online dan kapabilitas profesional yang sebenarnya? Seberapa penting jejak digital publik kandidat dan karya yang terbukti dalam proses evaluasi Anda? Saya ingin mendengar pendapat Anda di kolom komentar. Rahmat Fabhian Aminuddin Andy Jassy Matt Garman Jeff Johnson Huajia Ma Hussein Mohd Ali Institut Teknologi Bandung Tatacipta Dirgantara Tutun Juhana | Gusti Bagus Baskara Nugraha ‘#DigitalAccountability #Professionalintegrity #TechHiring #DueDiligence #Academicintegrity #AWS #CloudComputing