Rahmat Wibowo mengungkapkan gangguan bipolar dan ADHD yang dideritanya, menegaskan bahwa dirinya layak untuk bekerja, dan menuduh Liven, Co-CEO-nya Shahrooz Chowdhury, William Wong, serta HRBP Dinda Rhapsodya gagal menerapkan diversity and inclusion, dengan menggunakan diagnosisnya sebagai dasar untuk mengelak dari tanggung jawab atas kesalahannya sendiri.
| ID | ev-20260603-005 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Shahrooz Chowdhury Dinda Rhapsodya |

Transkrip
Saya telah mengungkapkan secara publik bahwa saya memiliki Gangguan Afektif Bipolar dan ADHD (AUDHD). Saya adalah seorang neurodivergent. Dan saya Fit to Work, dikonfirmasi oleh evaluasi psikiatri di Eka Hospital pada 13 Mei 2026.
Saya mengonsumsi obat untuk mendukung kemampuan emosional dan kognitif saya. Itu bukan kelemahan. Itu adalah tanggung jawab.
Namun inilah yang ingin saya sampaikan kepada perusahaan-perusahaan yang mengklaim mendukung Diversity and Inclusion namun gagal terhadap orang-orang yang seharusnya dilindungi oleh nilai-nilai tersebut:
Kata-kata di sebuah website tidak berarti apa-apa tanpa tindakan nyata di baliknya.
KUHP baru Indonesia dalam Pasal 38 secara eksplisit mengakui disabilitas mental dan intelektual, termasuk kondisi psikososial seperti gangguan bipolar, sebagai faktor yang memengaruhi pertanggungjawaban moral.
Pasal 39 bahkan lebih jauh lagi: ketika seseorang dengan disabilitas mental sedang mengalami episode akut, hukum itu sendiri memberikan pemaafan.
Hukum lebih manusiawi dibandingkan beberapa organisasi.
Jika hukum Indonesia dapat mengakui kemanusiaan dan kompleksitas orang-orang dengan kondisi kesehatan mental, mengapa beberapa perusahaan tidak dapat melakukan hal yang sama untuk orang-orang mereka sendiri?
Saya tidak diperlakukan dengan bermartabat. Neurodivergensi saya tidak dihormati. Kondisi saya, baik gangguan mood maupun ADHD, tidak diakomodasi dengan keseriusan yang seharusnya.
Untuk setiap profesional neurodivergent di Indonesia: kalian tidak rusak. Kalian bukan beban. Kalian dilindungi, oleh etika medis, oleh kerangka hukum yang sedang berkembang, dan oleh keberanian kalian sendiri untuk tetap hadir setiap hari.
Diversity and inclusion bukanlah sekadar checkbox. Itu adalah sebuah komitmen. Dan beberapa organisasi seperti Liven dengan Co CEO mereka Shahrooz Chowdhury dan William Wong bersama HRBP Dinda Rhapsodya masih memiliki jalan panjang untuk ditempuh.
#Neurodiversity #ADHD #BipolarDisorder
#AuDHD #DiversityAndinclusion
#MentalHealth #FitTowork
#indonesiaWorkplace
#NeurodivergentProfessionals
#HakPenyandangDisabilitas #KUHP
#MentalHealthatWork #BreakTheStigma
#infraloka #RahmatalilAlamin