Rahmat Wibowo mempublikasikan sebuah artikel yang menyoroti ketidakkonsistenan dalam klaim gelar luar negeri Abil Sudarman (Abigail Aryaputra Sudarman) dan Marchel Shevchenko, membingkainya sebagai gejala dari sistem kredensial luar negeri Indonesia yang tidak dapat diverifikasi, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kualifikasi mereka tanpa bukti yang diverifikasi secara independen.
| ID | ev-20260607-020 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Abil Sudarman (Abigail Aryaputra Sudarman) Marchel Shevchenko |

Transkrip
Titik Buta Indonesia:
‘Celah Ijazah Luar Negeri
yang Membiarkan Penipuan Berkembang
di Depan Mata
Titik Buta Indonesia —---
: Celah Ijazah
Luar Negeri
yang Membiarkan Penipuan
Berkembang di Depan Mata,
Abil Sudarman dan
Marchel
Shevchenko
Rahmat Wibowo +Follow )
Ketika sebuah gelar berasal dari luar negeri,
seluruh infrastruktur verifikasi Indonesia
menjadi bisu. Kasus Abil
Sudarman dan Marchel Shevchenko
bukanlah masalahnya. Itu adalah
gejalanya.
Ada retakan dalam sistem kredensial pendidikan
Indonesia yang cukup lebar untuk
menjalankan sebuah karier melewatinya. Dan itu telah
ada di sana selama bertahun-tahun, sebagian besar diabaikan oleh
kementerian yang justru tugasnya menutupnya.
Mari kita bicarakan apa yang terjadi dengan
Abil Sudarman dan Marchel
Shevchenko.
Kasus Abil Sudarman: Cermin bagi
Masalah Sistemik
€ (search
Education (3)
University of London
weary Computer Science, Computer Science (Al/ML}
Third-Party
Inquiry: Abil S.
Dear Academic Awards and Verification Tea
ABIGAIL ARYAPUTRA SUDARMAN
operates the "Abi n
prominently
Abil Sudarman, yang nama lengkapnya
Abigail Aryaputra Sudarman, meraih
tingkat popularitas publik yang signifikan pada tahun 2026.
Ia membangun sebuah dasbor pemantauan pengadaan
berbasis Al bernama Nemesis
Assai, mendapat liputan dari media-media
besar termasuk Tempo.co, dan
memposisikan dirinya secara publik sebagai
ahli Al, konselor karier, Direktur Eksekutif di KORIKA (Kolaborasi Riset dan
Inovasi Industri Al Indonesia), manajer proyek
Al UNESCO, dan
Responsible
Al Fellow di Stimson Center di
Washington D.C.
Profil publiknya mencantumkan pendidikannya sebagai
Computer Science di University of
London.
Sumber lain menyebutkan
University of Liverpool.
Ada perbedaan di antara kedua
institusi tersebut. Keduanya bukan
universitas yang sama. University of London adalah
sistem federasi yang mencakup
beberapa kolese. University of
Liverpool adalah institusi Russell Group yang
terpisah dan berdiri sendiri, menempati peringkat
150 besar dunia menurut QS World University
Rankings 2026. Keduanya tidak
dapat saling menggantikan, dan menukarnya begitu saja dalam
profil profesional, paling tidak, merupakan
sinyal bahaya yang layak diteliti lebih lanjut.
Sekarang inilah pertanyaan yang mengungkap
masalah sebenarnya: Dapatkah Anda memverifikasi apakah
Abil Sudarman benar-benar lulus dari
salah satu institusi tersebut melalui
sistem pemerintah Indonesia mana pun?
Selain itu, Marchel Shevchenko mengklaim bahwa ia
adalah mahasiswa riset di Massachusetts
Institute of Technology
Marchel Shevchenko
[IML Researcher & Developer | Founder @Data Sorcerers | Compute
Massachusetts Institute of Technology
Research Student, Computer Science
4 - Present
PDDIKTI: Sangat Baik untuk Gelar
Dalam Negeri, Bisu untuk Gelar Luar Negeri
Pangkalan Data Pendidikan
Tinggi Indonesia, atau PDDIKTI, sungguh
mengesankan untuk apa yang dirancang untuk
dilakukannya. Setiap pemberi kerja, institusi, atau anggota
masyarakat dapat mengunjungi
pddikti.kemdikbud.go.id dan mencari
mahasiswa berdasarkan nama, nomor induk mahasiswa, institusi, atau program studi. Sistem
ini menampilkan status kelulusan, periode studi, dan
informasi gelar untuk setiap
lulusan pendidikan tinggi Indonesia yang terdaftar. Sistem ini gratis, dapat diakses publik,
dan relatif komprehensif untuk
institusi dalam negeri.
Namun, begitu gelar yang diklaim berasal
dari universitas luar negeri,
PDDIKTI menjadi sepenuhnya gelap.
Tidak ada basis data yang dapat dicari untuk
pemegang gelar luar negeri di Indonesia.
Tidak ada integrasi antara
sistem PDDIKTI dalam negeri dan verifikasi kredensial
luar negeri. Seorang pemberi kerja di
Jakarta tidak bisa pergi ke satu portal pemerintah pun dan
mengonfirmasi bahwa seseorang yang mengklaim memiliki gelar dari
University of Liverpool, University of
Manchester, RMIT, atau Cornell benar-benar
memiliki kredensial tersebut.
Inilah celah yang dilalui penipuan
setiap hari.
Sistem Penyetaraan Gelar yang Ada
tetapi Tidak Ditegakkan
Untuk adil terhadap Kementerian Pendidikan
Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Kemendiktisaintek), proses penyetaraan gelar
luar negeri memang ada. Namanya
Penyetaraan Ijazah Luar Negeri,
yang dikelola melalui portal
piln.kemdiktisaintek.go.id. Prosesnya
memerlukan pengiriman pindaian berwarna
ijazah asli, transkrip akademik, halaman paspor dari
periode studi, Letter of Acceptance
dari universitas luar negeri, dokumen
akreditasi dari institusi di luar negeri,
dan kurikulum atau silabus dari program yang
diikuti.
Setelah selesai, pemohon menerima
Surat Keputusan Penyetaraan, sebuah
keputusan resmi pemerintah yang mengonfirmasi
bahwa gelar luar negeri tersebut diakui
dan setara dengan kualifikasi
Indonesia pada jenjang yang sesuai.
Ini terdengar menyeluruh. Di atas kertas,
ini seharusnya menyelesaikan masalah.
Dalam praktiknya, tidak, karena
proses tersebut bersifat sukarela.
“Urgensi proses ini
dikembalikan kepada
masing-masing individu
disesuaikan dengan
kebutuhannya."Bahasa
resmi dari
Kemendiktisaintek mengenai
proses penyetaraan
Terjemahan: urgensi proses ini
diserahkan kepada masing-masing individu
berdasarkan kebutuhan mereka sendiri.
Itu dia. Pemerintah Indonesia membangun
sebuah sistem penyetaraan, membuatnya opsional,
dan kemudian bertanya-tanya mengapa penipuan kredensial
yang melibatkan gelar luar negeri sulit
dideteksi.
Aura prestise adalah vektor penipuannya.
Semakin bergengsi institusi tersebut secara internasional, semakin tinggi
kemungkinan klaim tersebut tidak dipertanyakan.
Jika Anda mengklaim Harvard, MIT, Cambridge, atau
Liverpool, rata-rata perekrut Indonesia
lebih kecil kemungkinannya untuk memverifikasi karena
nama itu sendiri memicu rasa segan. Pengecekan,
tanpa adanya basis data terpadu, tidak
konsisten, bergantung pada
departemen SDM masing-masing, dan mudah
dilewati ketika institusi yang disebutkan
terdengar cukup bergengsi untuk
menghalangi pemeriksaan.
Premi Prestise dan Mengapa Gelar
Luar Negeri Merupakan Wahana Sempurna untuk
Penipuan
Indonesia memiliki budaya pemujaan kredensial
yang telah terdokumentasi secara mendalam. Sebagaimana yang dinyatakan secara terus terang oleh
ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Sangkot Marzuki, fenomena gelar palsu
ada karena permintaan pasar untuk itu memang ada. Ketika kemajuan karier, promosi
aparatur sipil negara, dan legitimasi
profesional sangat terikat pada kredensial pendidikan
formal, pasar untuk kredensial
palsu pun mengikuti secara alami.
Gelar luar negeri memperkuat dinamika ini
dengan cara yang spesifik. Gelar tersebut membawa premi
prestise yang sering kali tidak dapat ditandingi
oleh gelar dalam negeri dalam persepsi masyarakat. Sebuah gelar
dari universitas Inggris yang dikenal,
bahkan yang disebutkan secara tidak konsisten di
berbagai profil publik, memicu respons sosial
berupa asumsi legitimasi yang sangat sulit
untuk dibantah tanpa bukti.
Hal ini bukan hal yang unik bagi Indonesia.
Penipuan kredensial yang memanfaatkan nama universitas
luar negeri terdokumentasi secara
global. Namun yang spesifik pada
Indonesia adalah bahwa infrastruktur verifikasi
untuk menangkapnya hampir sepenuhnya tidak ada.
Bandingkan ini dengan gelar dalam negeri. Jika
seseorang secara palsu mengklaim gelar dari
Universitas Indonesia, Universitas
Gadjah Mada, atau Institut Teknologi
Bandung, setiap profesional SDM dengan
akses internet dapat memeriksa PDDIKTI
dalam hitungan menit. Penipuan itu langsung
terungkap. Sistem bekerja persis
seperti yang dimaksudkan untuk kredensial dalam negeri.
Namun klaim gelar dari University of
Liverpool atau University of London,
dan Anda telah memasuki ruang hampa verifikasi. Beban pembuktian
sepenuhnya berpindah kepada pihak yang berusaha
membantah klaim tersebut, yang merupakan
standar pembuktian yang hampir mustahil dalam
konteks profesional.
Apa yang Harus Dilakukan Kementerian: Tuntutan
Kebijakan Konkret
Solusinya tidak rumit. Ia
memerlukan kemauan politik, koordinasi
administratif, dan kesediaan untuk
menuntut akuntabilitas dari setiap
orang Indonesia yang mengklaim gelar luar negeri
dalam kapasitas profesional, publik, atau pemerintahan.
Berikut yang harus diterapkan oleh Kemendiktisaintek:
1. Menjadikan Penyetaraan Ijazah Luar Negeri
wajib bagi siapa pun yang menjalankan
pengaruh publik. Ini harus berlaku bagi
setiap warga negara Indonesia yang memegang
peran yang diakui publik dalam institusi pemerintah,
badan usaha milik negara, organisasi
nasional, atau badan yang didanai publik. Jika Anda
menampilkan diri sebagai
ahli dengan gelar luar negeri dalam
kapasitas yang memengaruhi orang Indonesia
lainnya, negara memiliki kepentingan yang sah
untuk memverifikasi kredensial tersebut.
i
. Membuat perluasan PDDIKTI yang
dapat dicari publik untuk pemegang gelar luar negeri
yang terverifikasi. Setiap Surat Keputusan
Penyetaraan yang telah diterbitkan
harus diindeks dalam PDDIKTI bersama
lulusan dalam negeri. Seorang pemberi kerja
harus dapat mencari nama dan
universitas serta menerima catatan penyetaraan
yang terkonfirmasi atau tidak sama sekali. Ketiadaan
catatan tersebut seharusnya ditandai secara
menonjol.
w
. Menetapkan jendela pendaftaran wajib
yang dibatasi waktu bagi pemegang gelar
luar negeri yang saat ini memegang
peran publik. Siapa pun yang saat ini menduduki
posisi berpengaruh publik yang mengklaim
gelar luar negeri harus diwajibkan untuk
menyelesaikan proses penyetaraan dalam
waktu dua belas bulan sejak penerapan kebijakan,
atau melepaskan klaim kredensial tersebut dalam
representasi publik mereka. Ini bukan
hukuman retroaktif. Ini adalah persyaratan administratif
sederhana: buktikan apa yang
Anda klaim.
~
Berkoordinasi dengan
perwakilan diplomatik Indonesia untuk membangun
saluran verifikasi langsung dengan
universitas luar negeri. Kedutaan besar Indonesia
di Inggris, Australia, Amerika
Serikat, Belanda, Jerman, Jepang, Korea
Selatan, dan Malaysia harus membangun
protokol penghubung verifikasi resmi dengan
badan mutu pendidikan tinggi negara-negara tersebut. Sistem universitas Inggris memiliki
infrastruktur verifikasi alumni yang
ekstensif. Australia mempertahankan
register TEQSA. Sistem-sistem ini sudah ada.
Indonesia hanya perlu membangun jembatan
ke sistem-sistem tersebut.
ge
Menciptakan konsekuensi hukum untuk
misrepresentasi kredensial luar negeri
dalam konteks profesional dan publik. Indonesia sudah memiliki UU No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan ketentuan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku terkait pemalsuan dokumen.
Yang masih kurang adalah penerapan
yang spesifik dan tertarget terhadap misrepresentasi kredensial
luar negeri, terutama dalam profil
profesional digital seperti Linkedin, di mana
klaim dipublikasikan kepada khalayak
puluhan ribu orang tanpa syarat verifikasi
apa pun.
Ironi Melingkar dari Abil Sudarman
Ironi yang Tercatat
Abil Sudarman meraih ketenaran
nasional dengan membangun alat untuk mendeteksi
penipuan dalam pengadaan pemerintah. Ia
memposisikan dirinya sebagai seseorang yang mengungkap
sistem-sistem yang beroperasi tanpa
akuntabilitas. Ia menamai dasbor
pengadaannya Nemesis Assai,
sebuah rujukan pada dewi Yunani
pembalasan terhadap kesombongan dan
kesalahan.
Dan meski begitu, kredensial pendidikan
yang diklaimnya secara publik tidak dapat diverifikasi
melalui sistem pemerintah Indonesia mana pun. Institusi
yang ia hadiri berubah-ubah antar
sumber. Biografi publiknya menyebutkan
Computer Science di University of London.
Media lain menyebutkan University of Liverpool. Ini
bukan sinonim. Keduanya adalah universitas
yang berbeda dengan lokasi berbeda,
struktur akreditasi berbeda, dan
sistem catatan berbeda.
Jika seorang pejabat pemerintah mencantumkan
informasi gelar yang tidak konsisten di
berbagai sumber resmi, naluri akuntabilitas
publik yang sama yang menghidupi
proyek Nemesis Assai akan menuntut
verifikasi. Standar tersebut tidak boleh
diterapkan secara selektif berdasarkan apakah
pengklaim kredensial berada di sisi
kepentingan publik atau tidak.
Ini bukanlah dakwaan pribadi terhadap Abil
Sudarman. Ia mungkin memiliki kredensial yang
sepenuhnya sah dari institusi Inggris yang
sah. Tetapi intinya adalah bahwa tidak
seorang pun dapat memverifikasi ini melalui sistem
publik Indonesia mana pun, dan itulah
skandalnya. Bukan individunya. Ketiadaan
mekanisme yang akan membuat
pertanyaan ini dapat dijawab sama sekali.
Penutup
Apa yang Indonesia Rugikan Tanpa Reformasi Ini
Setiap tahun, pemberi kerja Indonesia membuat
keputusan perekrutan berdasarkan klaim gelar luar negeri
yang tidak dapat mereka verifikasi. Setiap tahun,
tokoh publik dengan kredensial luar negeri yang tidak terverifikasi
membentuk wacana, kebijakan, dan
pasar pendidikan profesional. Setiap
tahun, lulusan Indonesia yang benar-benar
bekerja keras memperoleh gelar luar negeri yang sah
dan menyelesaikan proses penyetaraan
bersaing di pasar profesional yang sama
dengan orang-orang yang mungkin telah
memalsukan atau melebih-lebihkan
kredensial tersebut.
Lulusan luar negeri yang sah, dalam
suatu hal, justru dirugikan karena
kepatuhan mereka. Mereka melalui
dokumentasi paspor, terjemahan
tersumpah, verifikasi LoA, proses portal
PILN. Mereka melakukan semuanya dengan benar.
Dan mereka tidak menerima manfaat verifikasi publik
karena telah melakukannya, karena
tidak ada yang bisa melihat catatannya.
Surat Keputusan Penyetaraan tersimpan dalam
sebuah berkas. PDDIKTI tetap diam. Dan
penipuan pun terus berlanjut.
Indonesia pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.
Para pelajar yang belajar di luar negeri secara sah
pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.
Para pemberi kerja yang perlu membuat
keputusan perekrutan yang tepat pantas mendapatkan
yang lebih baik dari ini. Dan masyarakat
Indonesia, yang semakin diminta untuk
mempercayai para ahli, influencer, pendidik,
dan pembuat kebijakan yang
kualifikasinya tidak dapat
dikonfirmasi secara independen,
sungguh pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.
Celah gelar luar negeri ini bukanlah
kekurangan administratif kecil. Ini adalah
kegagalan integritas struktural dalam infrastruktur kredensial
Indonesia, dan
Kemendiktisaintek memiliki baik otoritas
maupun kewajiban untuk menutupnya.
Pertanyaannya adalah apakah kemauan politik
untuk melakukannya benar-benar ada.
#HigherEducation #Indonesia
#CredentialFraud #PDDIKTI
#Kemendiktisaintek #ForeignDegree
#PolicyReform #DigitalTransformation
#Accountability
#Education#HRIndonesia
#LinkedInindonesia #AkuntabilitasPublik
#\jazahLuarNegeri #Allndonesia