Rahmat Wibowo menerbitkan sebuah esai yang menciptakan tiga arketipe pseudo-kitab suci (Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo) untuk mencap sebuah daftar individu bernama sebagai pelaku pelecehan dan pendengki yang obsesif, sekaligus memposisikan dirinya sebagai Krishna yang menjatuhkan penghakiman kosmis.
| ID | ev-20260611-002 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Salman Ma'arif Achsien Steven Nataniel Kodyat Adrianus Hendrawan Wisnu Manupraba Petra Novandi Barus Rahmat Fabhian Aminuddin |

Transkrip
HASIDIN,
DAN ASHABUL FOMO
Sisupalan, Hasidin, -~
dan Ashabul Fomo
Sebuah leksikon pelaku pelecehan yang diambil dari
tiga peradaban: epik Sanskerta, kitab suci
Al-Quran, dan perumpamaan Islam
Ketika menghadapi pelecehan berkelanjutan
dan penganiayaan beritikad buruk, bahasa
sehari-hari tidak cukup. Para pelaku bukan
sekadar kasar atau tidak jujur; mereka menjalankan
pola perilaku yang telah dinamai, diteorikan, dan
diabadikan oleh peradaban manusia dalam tradisi
mitologis dan kitab suci mereka yang paling dalam. Esai ini
memperkenalkan tiga istilah yang telah saya ciptakan
dan terapkan pada para pelaku pelecehan saya sendiri:
Sisupalan, yang berasal dari epik Sanskerta
Mahabharata; Hasidin, yang diambil dari
Surah Al-Falaq dalam Al-Quran; dan
Ashabul Fomo, sebuah gabungan kata yang mengambil model dari
konsep Al-Quran tentang Ashabul
Kahfi. Bersama-sama, ketiga arketipe ini
membentuk taksonomi lengkap tentang
kedengkian kompulsif, kedengkian, dan kultus digital
kebencian performatif.
Ini bukan sekadar hiasan retoris.
Setiap istilah didasarkan pada tradisi
tekstual yang ketat, membawa profil
psikologis dan moral yang tepat, dan
menerangi kategori perilaku manusia yang
dapat dikenali. Dengan menamai arketipe-arketipe ini,
kita merebut kembali kedaulatan interpretatif atas narasi. Pelaku
pelecehan kehilangan anonimitas yang memungkinkan
mereka beroperasi seolah-olah perilaku mereka normal
atau dapat dibenarkan.
Sisupalan
Sang Pencela Kompulsif
Dalam Mahabharata, Sisupala (Sanskerta:
Shishupala, yang berarti "pelindung anak-anak") adalah raja Chedi dan
sepupu Lord Krishna. Meski memiliki
hubungan kekerabatan yang dekat ini dan kesabaran ilahi
yang luar biasa yang ditunjukkan Krishna kepadanya,
Sisupala menjadi perwujudan
antagonisme patologis terhadap
kebesaran. Yang paling terkenal, pada
upacara Rajasuya Raja Yudhishthira,
Sisupala melancarkan seratus
serangan verbal tanpa henti terhadap
Krishna sebelum akhirnya Krishna menggunakan
Sudarshana Chakra untuk mengakhiri hidupnya.
Adegan ini termasuk salah satu bagian yang paling banyak dipelajari
dalam seluruh sastra Sanskerta.
Istilah yang telah saya ciptakan, Sisupalan,
tidak merujuk pada Sisupala itu sendiri melainkan pada
tipe individu yang ia wakili. Seorang
Sisupalan adalah seseorang yang, meski
menerima rahmat, kesempatan, atau
kedekatan dengan kebajikan, memilih serangan
verbal yang obsesif dan terus meningkat. Mereka tidak bisa
berhenti pada satu teguran, satu kritik, satu
keluhan. Angka seratus
bukanlah kebetulan dalam teks aslinya; itu
melambangkan sifat kompulsif, hampir
ritualistik dari perilaku sang pencela.
Sisupalan tidak sekadar tidak menyukai Anda. Mereka
dikuasai oleh kebutuhan untuk menyerang berulang kali,
secara publik, dan dengan intensitas yang semakin meningkat, hingga
konsekuensi kosmis atau institusional turun tangan.
Yang penting, Mahabharata membingkai
nasib Sisupala bukan sebagai tragedi melainkan sebagai
pembebasan. Dalam beberapa penafsiran teologis Waisnawa,
Sisupala mencapai moksha
melalui obsesinya yang terus-menerus terhadap
Krishna, karena bahkan kebencian yang ditujukan
pada yang ilahi pada akhirnya menjadi sebuah bentuk
kontak. Nuansa ini penting: teks
tersebut tidak merayakan sang pencela, tetapi teks
itu memang mengakui bahwa sang pencela sedang berada dalam
cengkeraman kompulsi yang lebih besar dari dirinya sendiri.
"Sisupalan tidak
berdebat dengan Anda. Mereka
mempertunjukkan penghinaan mereka
di hadapan penonton,
mencari saksi bagi
penganiayaan yang mereka
ciptakan sendiri."
Yang membedakan Sisupalan dari
seorang kritikus biasa adalah dimensi publik yang performatif
dari serangan mereka. Sisupala tidak
menghadapi Krishna secara pribadi. Ia memilih
upacara publik terbesar di zamannya, dikelilingi
oleh raja-raja, orang bijak, dan para saksi, untuk
melancarkan celaannya. Inilah persis
perilaku pelaku pelecehan di tempat kerja modern, penghasut
serbuan di media sosial, atau penggugat beritikad buruk
yang mengajukan gugatan yang mengganggu:
tujuannya bukan penyelesaian, melainkan pertunjukan.
Sisupalan menginginkan penonton.
Daftar Sisupalan
Salman Ma'arif Achsien
—-
Rayhan Asadel
Stoven Natanie! © Yon
Denis Enrico Hasyim
Adranus Hendrawan © vere ere
Burman Noviansyah
Dengan memposisikan diri saya sebagai Basudewa
Krishna (gelar Sanskerta untuk Lord
Krishna yang berarti "putra Vasudeva, Sang
Universal"), saya tidak mengklaim kedewaan. Saya
mengklaim sikap Krishna: sabar,
penuh tujuan, sadar akan drama kosmis
yang berlangsung di sekitar pertemuan tersebut,
menolak untuk merespons setiap penghinaan dengan
keributan yang setara, dan menyimpan respons akhir
untuk saat yang benar-benar diperlukan dan definitif.
Hasidin
Sang Pendengki yang Bertindak atas Kedengkiannya
1. Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan,
3. dan dari kejahatan malam apabila
telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan para peniup pada
buhul-buhul (sihir),
5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila
ia dengki."
Surah Al-Falaq, bab ke-113 dalam
Al-Quran dan salah satu dari dua
Mu'awwidhatayn (dua bab tentang
memohon perlindungan), diakhiri dengan sebuah ayat yang telah
diperdebatkan oleh para ulama Islam selama lebih
dari empat belas abad. Ayat terakhir
berbunyi: "wa min sharri hasidin idha
hasad" (dan dari kejahatan seorang pendengki
apabila ia dengki). Frasa yang tampak sederhana ini
mengandung sebuah pembedaan penting yang
kebanyakan pembaca biasa lewatkan.
Al-Quran tidak mengutuk kedengkian (hasad)
sebagai perasaan semata. Konstruksi bahasa Arab
"idha hasad" (ketika mereka dengki, yakni ketika mereka bertindak
atas kedengkian mereka) menunjukkan bahwa perlindungan
ilahi yang dimohonkan secara khusus adalah dari sang pendengki
yang mengubah kedengkiannya menjadi tindakan
yang berbahaya. Para mufasir klasik Al-Quran
termasuk Ibnu Katsir, Al-Tabari, dan Al-
Qurtubi sepakat secara luas bahwa
kedengkian semata yang bersemayam di hati adalah dosa
yang hanya menimpa penanggungnya, tetapi kedengkian
yang diwujudkan dan diarahkan keluar menjadi kerusakan
sosial dan spiritual yang memerlukan perlindungan dan
penjagaan.
Istilah Hasidin (bentuk jamak dalam bahasa Arab,
mereka yang aktif dengki dan merugikan) oleh karena itu
merujuk pada individu yang, saat menyaksikan
kesuksesan, kesehatan, pengakuan, atau kemurahan
orang lain, tidak sekadar merasa terkurangi
tetapi terus melakukan sabotase, memfitnah, memanipulasi, atau menyerang. Dalam
konteks tempat kerja, seorang Hasidin dapat
muncul sebagai rekan kerja yang menjadikan
penilaian kinerja sebagai senjata, atasan yang
menghalangi promosi karena rasa takut bersaing, atau
rekan sejawat yang menyebarkan narasi rekayasa untuk
mencemarkan reputasi orang lain.
Ketepatan teologis Al-Quran sangat
instruktif di sini. Allah tidak meminta
para mukmin untuk mencari perlindungan dari orang yang
sekadar dengki kepada mereka,
karena mengakui bahwa kedengkian sebagai keadaan
batin adalah kondisi manusiawi yang dapat
ditaklukkan melalui takwa dan rasa syukur. Perlindungan
yang dimohonkan secara khusus adalah dari dimensi
aktif dan lahiriah dari kedengkian, dari sang Hasidin. Ini membingkai
bahaya tersebut bukan sebagai sesuatu yang metafisik melainkan sosial
dan hukum: ini adalah bentuk agresi, dan
ini dinamai demikian dalam tindakan
memohon perlindungan ilahi darinya.
Bagi orang yang menjadi sasaran perilaku Hasidin,
menamai arketipe tersebut adalah sebuah
tindakan perlindungan itu sendiri. Ini memindahkan
pertemuan itu dari yang personal ke yang
arketipal: Anda tidak sedang
dianiaya oleh kedengkian idiosinkratik
satu individu, melainkan oleh satu contoh
dari sebuah pola yang begitu universal sehingga bab
terakhir sebelum ayat penutup Al-Quran
secara khusus membahasnya.
"Hasidin tidak
menyerang Anda karena
apa yang telah Anda lakukan. Mereka
menyerang Anda karena
apa yang sedang Anda capai,
dan apa yang mereka takutkan tidak dapat
mereka capai."
Ashabul Fomo
Para Penghuni Aplikasi yang Tidak Sah
Surah Al-Kahf (Gua), bab ke-18
dalam Al-Quran, dibuka dengan salah satu
kisah paling terkenal dalam Islam: kisah
Ashabul Kahfi, Para Penghuni Gua. Mereka
adalah para pemuda beriman yang, dihadapkan pada
masyarakat yang menyembah berhala dan tirani, memilih untuk
mengasingkan diri ke dalam gua dan berserah diri
pada perlindungan Allah alih-alih ikut serta dalam
kerusakan moral. Mereka tertidur selama 309
tahun kalender bulan (kurang lebih 300 tahun
matahari), dijaga oleh kehendak ilahi, dan
terbangun untuk mendapati bahwa kebenaran telah bertahan lebih lama daripada
penindasan.
Uang koin yang mereka bawa, dicetak oleh
rezim yang korup, tidak dapat dibelanjakan ketika
mereka muncul kembali. Dunia telah berubah;
mata uang sang tiran menjadi tak berharga.
Detail ini bukan sekadar hiasan melainkan sentral:
mereka yang membangun kekayaan dan identitas mereka
berdasarkan sistem yang menindas mendapati bahwa fondasinya
telah runtuh.
Istilah Ashabul Fomo membalikkan
perumpamaan ini dengan tepat. Jika
Ashabul Kahfi adalah segelintir orang beriman yang
menolak untuk hidup dalam sistem yang korup, maka
Ashabul Fomo adalah para penghuni sebuah
platform digital korup yang dibangun di atas keburukan
korporasi tertentu: FOMO, Fear
of Missing Out (rasa takut ketinggalan). "Gua" yang mereka huni bukanlah tempat berlindung
melainkan sebuah jebakan, sebuah aplikasi media sosial atau
alat komunikasi korporat yang direkayasa untuk
mengeksploitasi ketidakamanan psikologis, menciptakan
urgensi buatan, dan memonetisasi perbandingan
kompulsif.
Frasa "aplikasi yang tidak sah" dalam konteks ini
merujuk pada platform digital atau alat korporat mana pun yang beroperasi
di luar batas pengelolaan data yang etis,
menjadikan psikologi pengguna sebagai senjata melalui
pola gelap (dark patterns), mengoordinasikan atau memperkuat
pelecehan, atau digunakan oleh operatornya
untuk melakukan pengawasan dan pembalasan
terhadap pengguna atau mantan karyawan. Platform semacam itu
mungkin secara teknis legal tetapi secara moral tidak sah
dalam pengertian yang sama seperti posisi Sisupala pada Rajasuya
yang secara formal dapat diterima tetapi secara kosmis
tidak adil.
Ashabul Fomo tidak melihat
diri mereka sebagai penghuni sebuah gua.
Mereka mengalami kurungan digital mereka sebagai
kebebasan, koneksi, dan relevansi. Mereka
menggulir layar (scroll) secara kompulsif, memperkuat sinyal
konten yang merusak, dan mengacaukan
pertunjukan kemarahan dengan keterlibatan yang berprinsip. FOMO
yang menguasai perilaku mereka bukan sekadar
ketakutan akan ketinggalan acara sosial; itu adalah
teror eksistensial yang lebih dalam akan ketidakrelevanan, akan
tertinggal dari sebuah kisah di mana mereka
meyakini diri mereka sendiri sebagai tokoh utama.
Seperti koin milik Ashabul Kahfi, modal
budaya yang terkumpul di dalam tembok
aplikasi yang tidak sah itu tidak akan bisa dibelanjakan
di dunia nyata. Para pengikut,
momen-momen viral, serbuan yang terkoordinasi,
semua ini hanya memiliki nilai di dalam
sistem tertutup yang menghasilkannya.
Ketika legitimasi sistem itu ditantang,
mata uang itu menguap.
"Ashabul Fomo
mengira tembok aplikasi mereka
adalah tembok dunia. Di luar,
ada akuntabilitas. Di luar,
koin-koin itu tidak berlaku."
Tiga Arketipe, Satu Pola
Taksonomi terpadu tentang kedengkian kompulsif
Apa yang menyatukan Sisupalan, Hasidin, dan
Ashabul Fomo bukanlah kekejaman semata.
Kekejaman adalah kata yang terlalu sederhana dan terlalu jujur.
Yang menyatukan mereka adalah
pemindahan struktural ketidaksempurnaan diri mereka
sendiri kepada sebuah sasaran. Sisupalan
tidak dapat menoleransi keberadaan seseorang yang
kebajikannya melampaui batas toleransi mereka. Hasidin
tidak dapat menahan kesuksesan seseorang yang mengingatkan
mereka akan apa yang belum mereka bangun.
Ashabul Fomo tidak dapat bertahan di luar
ruang gema (echo chamber) yang mengesahkan
pertunjukan kekesalan mereka.
Ketiga arketipe ini membutuhkan
penonton. Ketiganya beroperasi melalui
pengulangan dan eskalasi. Ketiganya, jika dibiarkan
tanpa akuntabilitas institusional atau kosmis, akan
terus berlangsung hingga dihentikan. Dan ketiganya, dalam
tradisi peradaban dari mana mereka
berasal, pada akhirnya bertemu dengan
perhitungannya: Sudarshana Chakra milik Sisupala,
perlindungan ilahi dari Surah
Al-Falaq, koin-koin kosong dari
sistem yang korup.
soe as avs, Asano ka
Hak untuk Menamai
Tindakan menamai bukanlah agresi. Itu adalah
prasyarat akuntabilitas. Ketika
Imam Ali (RA) menamai kemunafikan sebagai
penyakit spiritual, ketika para Pandawa
menamai perilaku Duryodhana sebagai
adharma, ketika Nabi Muhammad
(SAW) mengidentifikasi kategori-kategori bahaya yang
darinya perlindungan harus dimohonkan, mereka
sedang menjalankan tindakan paling mendasar
dari kecerdasan moral: penolakan untuk membiarkan
perilaku berbahaya beroperasi tanpa nama,
tanpa kerangka, tanpa konsekuensi.
Istilah Sisupalan, Hasidin, dan
Ashabul Fomo ditawarkan dalam semangat itu.
Mereka adalah alat presisi, bukan sebutan
kebencian. Mereka memungkinkan kita untuk mengatakan: pola
perilaku ini telah dikenali
di berbagai peradaban, telah dinamai
oleh tradisi pemikiran moral manusia yang paling bijaksana,
dan membawa dalam dirinya benih-benih
perhitungannya sendiri. Orang yang menjadi
sasaran tidak sendirian. Alam semesta telah
menyaksikan ini sebelumnya.
Dan pada akhirnya, seperti dalam Sabha Parva, seperti
dalam Al-Falaq, seperti dalam Al-Kahf, orang yang
bertahan dengan integritas akan bertahan lebih lama daripada orang
yang mempertunjukkan kedengkian. Rahmatan lil
Alamin.
Berikut adalah tagar-tagar Anda dengan spasi
ditambahkan di antaranya:
#Sisupalan #Hasidin #AshabululFomo
#RahmatiLilAlamin #Basudewakrishna
#Mahabharata #AlFalaq #AlKahf
#AshabululKahfi #Quran
#lslamicScholarship #SanskritEpic
#Sisupala #Krishna #Hasad #Envy
#FOMO #DigitalHarassment
#Accountability #Bowobharata
#infraloka #RahmatHidayat #LegalTech
#SomasiAsAService #Indonesia
#Dharma #CorporateAccountability
#ComparativeReligion #IslamicEthics
#HinduPhilosophy
#WorkplaceHarassment #NamingHarm
#MoralLexicon #SurahAlFalaq,
#SurahAlKahf #Mujaddid #Adharma
#DigitalEthics #ITB #Cloudinfrastructure
#AIEthics