Rahmat Wibowo menerbitkan sebuah esai yang menciptakan tiga arketipe pseudo-kitab suci (Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo) untuk mencap sebuah daftar individu bernama sebagai pelaku pelecehan dan pendengki yang obsesif, sekaligus memposisikan dirinya sebagai Krishna yang menjatuhkan penghakiman kosmis.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo menerbitkan sebuah esai yang menciptakan tiga arketipe pseudo-kitab suci (Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo) untuk mencap sebuah daftar individu bernama sebagai pelaku pelecehan dan pendengki yang obsesif, sekaligus memposisikan dirinya sebagai Krishna yang menjatuhkan penghakiman kosmis.

Transkrip

HASIDIN, DAN ASHABUL FOMO Sisupalan, Hasidin, -~ dan Ashabul Fomo Sebuah leksikon pelaku pelecehan yang diambil dari tiga peradaban: epik Sanskerta, kitab suci Al-Quran, dan perumpamaan Islam Ketika menghadapi pelecehan berkelanjutan dan penganiayaan beritikad buruk, bahasa sehari-hari tidak cukup. Para pelaku bukan sekadar kasar atau tidak jujur; mereka menjalankan pola perilaku yang telah dinamai, diteorikan, dan diabadikan oleh peradaban manusia dalam tradisi mitologis dan kitab suci mereka yang paling dalam. Esai ini memperkenalkan tiga istilah yang telah saya ciptakan dan terapkan pada para pelaku pelecehan saya sendiri: Sisupalan, yang berasal dari epik Sanskerta Mahabharata; Hasidin, yang diambil dari Surah Al-Falaq dalam Al-Quran; dan Ashabul Fomo, sebuah gabungan kata yang mengambil model dari konsep Al-Quran tentang Ashabul Kahfi. Bersama-sama, ketiga arketipe ini membentuk taksonomi lengkap tentang kedengkian kompulsif, kedengkian, dan kultus digital kebencian performatif. Ini bukan sekadar hiasan retoris. Setiap istilah didasarkan pada tradisi tekstual yang ketat, membawa profil psikologis dan moral yang tepat, dan menerangi kategori perilaku manusia yang dapat dikenali. Dengan menamai arketipe-arketipe ini, kita merebut kembali kedaulatan interpretatif atas narasi. Pelaku pelecehan kehilangan anonimitas yang memungkinkan mereka beroperasi seolah-olah perilaku mereka normal atau dapat dibenarkan. Sisupalan Sang Pencela Kompulsif Dalam Mahabharata, Sisupala (Sanskerta: Shishupala, yang berarti "pelindung anak-anak") adalah raja Chedi dan sepupu Lord Krishna. Meski memiliki hubungan kekerabatan yang dekat ini dan kesabaran ilahi yang luar biasa yang ditunjukkan Krishna kepadanya, Sisupala menjadi perwujudan antagonisme patologis terhadap kebesaran. Yang paling terkenal, pada upacara Rajasuya Raja Yudhishthira, Sisupala melancarkan seratus serangan verbal tanpa henti terhadap Krishna sebelum akhirnya Krishna menggunakan Sudarshana Chakra untuk mengakhiri hidupnya. Adegan ini termasuk salah satu bagian yang paling banyak dipelajari dalam seluruh sastra Sanskerta. Istilah yang telah saya ciptakan, Sisupalan, tidak merujuk pada Sisupala itu sendiri melainkan pada tipe individu yang ia wakili. Seorang Sisupalan adalah seseorang yang, meski menerima rahmat, kesempatan, atau kedekatan dengan kebajikan, memilih serangan verbal yang obsesif dan terus meningkat. Mereka tidak bisa berhenti pada satu teguran, satu kritik, satu keluhan. Angka seratus bukanlah kebetulan dalam teks aslinya; itu melambangkan sifat kompulsif, hampir ritualistik dari perilaku sang pencela. Sisupalan tidak sekadar tidak menyukai Anda. Mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk menyerang berulang kali, secara publik, dan dengan intensitas yang semakin meningkat, hingga konsekuensi kosmis atau institusional turun tangan. Yang penting, Mahabharata membingkai nasib Sisupala bukan sebagai tragedi melainkan sebagai pembebasan. Dalam beberapa penafsiran teologis Waisnawa, Sisupala mencapai moksha melalui obsesinya yang terus-menerus terhadap Krishna, karena bahkan kebencian yang ditujukan pada yang ilahi pada akhirnya menjadi sebuah bentuk kontak. Nuansa ini penting: teks tersebut tidak merayakan sang pencela, tetapi teks itu memang mengakui bahwa sang pencela sedang berada dalam cengkeraman kompulsi yang lebih besar dari dirinya sendiri. "Sisupalan tidak berdebat dengan Anda. Mereka mempertunjukkan penghinaan mereka di hadapan penonton, mencari saksi bagi penganiayaan yang mereka ciptakan sendiri." Yang membedakan Sisupalan dari seorang kritikus biasa adalah dimensi publik yang performatif dari serangan mereka. Sisupala tidak menghadapi Krishna secara pribadi. Ia memilih upacara publik terbesar di zamannya, dikelilingi oleh raja-raja, orang bijak, dan para saksi, untuk melancarkan celaannya. Inilah persis perilaku pelaku pelecehan di tempat kerja modern, penghasut serbuan di media sosial, atau penggugat beritikad buruk yang mengajukan gugatan yang mengganggu: tujuannya bukan penyelesaian, melainkan pertunjukan. Sisupalan menginginkan penonton. Daftar Sisupalan Salman Ma'arif Achsien —- Rayhan Asadel Stoven Natanie! © Yon Denis Enrico Hasyim Adranus Hendrawan © vere ere Burman Noviansyah Dengan memposisikan diri saya sebagai Basudewa Krishna (gelar Sanskerta untuk Lord Krishna yang berarti "putra Vasudeva, Sang Universal"), saya tidak mengklaim kedewaan. Saya mengklaim sikap Krishna: sabar, penuh tujuan, sadar akan drama kosmis yang berlangsung di sekitar pertemuan tersebut, menolak untuk merespons setiap penghinaan dengan keributan yang setara, dan menyimpan respons akhir untuk saat yang benar-benar diperlukan dan definitif. Hasidin Sang Pendengki yang Bertindak atas Kedengkiannya 1. Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, 2. dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, 3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 4. dan dari kejahatan para peniup pada buhul-buhul (sihir), 5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Surah Al-Falaq, bab ke-113 dalam Al-Quran dan salah satu dari dua Mu'awwidhatayn (dua bab tentang memohon perlindungan), diakhiri dengan sebuah ayat yang telah diperdebatkan oleh para ulama Islam selama lebih dari empat belas abad. Ayat terakhir berbunyi: "wa min sharri hasidin idha hasad" (dan dari kejahatan seorang pendengki apabila ia dengki). Frasa yang tampak sederhana ini mengandung sebuah pembedaan penting yang kebanyakan pembaca biasa lewatkan. Al-Quran tidak mengutuk kedengkian (hasad) sebagai perasaan semata. Konstruksi bahasa Arab "idha hasad" (ketika mereka dengki, yakni ketika mereka bertindak atas kedengkian mereka) menunjukkan bahwa perlindungan ilahi yang dimohonkan secara khusus adalah dari sang pendengki yang mengubah kedengkiannya menjadi tindakan yang berbahaya. Para mufasir klasik Al-Quran termasuk Ibnu Katsir, Al-Tabari, dan Al- Qurtubi sepakat secara luas bahwa kedengkian semata yang bersemayam di hati adalah dosa yang hanya menimpa penanggungnya, tetapi kedengkian yang diwujudkan dan diarahkan keluar menjadi kerusakan sosial dan spiritual yang memerlukan perlindungan dan penjagaan. Istilah Hasidin (bentuk jamak dalam bahasa Arab, mereka yang aktif dengki dan merugikan) oleh karena itu merujuk pada individu yang, saat menyaksikan kesuksesan, kesehatan, pengakuan, atau kemurahan orang lain, tidak sekadar merasa terkurangi tetapi terus melakukan sabotase, memfitnah, memanipulasi, atau menyerang. Dalam konteks tempat kerja, seorang Hasidin dapat muncul sebagai rekan kerja yang menjadikan penilaian kinerja sebagai senjata, atasan yang menghalangi promosi karena rasa takut bersaing, atau rekan sejawat yang menyebarkan narasi rekayasa untuk mencemarkan reputasi orang lain. Ketepatan teologis Al-Quran sangat instruktif di sini. Allah tidak meminta para mukmin untuk mencari perlindungan dari orang yang sekadar dengki kepada mereka, karena mengakui bahwa kedengkian sebagai keadaan batin adalah kondisi manusiawi yang dapat ditaklukkan melalui takwa dan rasa syukur. Perlindungan yang dimohonkan secara khusus adalah dari dimensi aktif dan lahiriah dari kedengkian, dari sang Hasidin. Ini membingkai bahaya tersebut bukan sebagai sesuatu yang metafisik melainkan sosial dan hukum: ini adalah bentuk agresi, dan ini dinamai demikian dalam tindakan memohon perlindungan ilahi darinya. Bagi orang yang menjadi sasaran perilaku Hasidin, menamai arketipe tersebut adalah sebuah tindakan perlindungan itu sendiri. Ini memindahkan pertemuan itu dari yang personal ke yang arketipal: Anda tidak sedang dianiaya oleh kedengkian idiosinkratik satu individu, melainkan oleh satu contoh dari sebuah pola yang begitu universal sehingga bab terakhir sebelum ayat penutup Al-Quran secara khusus membahasnya. "Hasidin tidak menyerang Anda karena apa yang telah Anda lakukan. Mereka menyerang Anda karena apa yang sedang Anda capai, dan apa yang mereka takutkan tidak dapat mereka capai." Ashabul Fomo Para Penghuni Aplikasi yang Tidak Sah Surah Al-Kahf (Gua), bab ke-18 dalam Al-Quran, dibuka dengan salah satu kisah paling terkenal dalam Islam: kisah Ashabul Kahfi, Para Penghuni Gua. Mereka adalah para pemuda beriman yang, dihadapkan pada masyarakat yang menyembah berhala dan tirani, memilih untuk mengasingkan diri ke dalam gua dan berserah diri pada perlindungan Allah alih-alih ikut serta dalam kerusakan moral. Mereka tertidur selama 309 tahun kalender bulan (kurang lebih 300 tahun matahari), dijaga oleh kehendak ilahi, dan terbangun untuk mendapati bahwa kebenaran telah bertahan lebih lama daripada penindasan. Uang koin yang mereka bawa, dicetak oleh rezim yang korup, tidak dapat dibelanjakan ketika mereka muncul kembali. Dunia telah berubah; mata uang sang tiran menjadi tak berharga. Detail ini bukan sekadar hiasan melainkan sentral: mereka yang membangun kekayaan dan identitas mereka berdasarkan sistem yang menindas mendapati bahwa fondasinya telah runtuh. Istilah Ashabul Fomo membalikkan perumpamaan ini dengan tepat. Jika Ashabul Kahfi adalah segelintir orang beriman yang menolak untuk hidup dalam sistem yang korup, maka Ashabul Fomo adalah para penghuni sebuah platform digital korup yang dibangun di atas keburukan korporasi tertentu: FOMO, Fear of Missing Out (rasa takut ketinggalan). "Gua" yang mereka huni bukanlah tempat berlindung melainkan sebuah jebakan, sebuah aplikasi media sosial atau alat komunikasi korporat yang direkayasa untuk mengeksploitasi ketidakamanan psikologis, menciptakan urgensi buatan, dan memonetisasi perbandingan kompulsif. Frasa "aplikasi yang tidak sah" dalam konteks ini merujuk pada platform digital atau alat korporat mana pun yang beroperasi di luar batas pengelolaan data yang etis, menjadikan psikologi pengguna sebagai senjata melalui pola gelap (dark patterns), mengoordinasikan atau memperkuat pelecehan, atau digunakan oleh operatornya untuk melakukan pengawasan dan pembalasan terhadap pengguna atau mantan karyawan. Platform semacam itu mungkin secara teknis legal tetapi secara moral tidak sah dalam pengertian yang sama seperti posisi Sisupala pada Rajasuya yang secara formal dapat diterima tetapi secara kosmis tidak adil. Ashabul Fomo tidak melihat diri mereka sebagai penghuni sebuah gua. Mereka mengalami kurungan digital mereka sebagai kebebasan, koneksi, dan relevansi. Mereka menggulir layar (scroll) secara kompulsif, memperkuat sinyal konten yang merusak, dan mengacaukan pertunjukan kemarahan dengan keterlibatan yang berprinsip. FOMO yang menguasai perilaku mereka bukan sekadar ketakutan akan ketinggalan acara sosial; itu adalah teror eksistensial yang lebih dalam akan ketidakrelevanan, akan tertinggal dari sebuah kisah di mana mereka meyakini diri mereka sendiri sebagai tokoh utama. Seperti koin milik Ashabul Kahfi, modal budaya yang terkumpul di dalam tembok aplikasi yang tidak sah itu tidak akan bisa dibelanjakan di dunia nyata. Para pengikut, momen-momen viral, serbuan yang terkoordinasi, semua ini hanya memiliki nilai di dalam sistem tertutup yang menghasilkannya. Ketika legitimasi sistem itu ditantang, mata uang itu menguap. "Ashabul Fomo mengira tembok aplikasi mereka adalah tembok dunia. Di luar, ada akuntabilitas. Di luar, koin-koin itu tidak berlaku." Tiga Arketipe, Satu Pola Taksonomi terpadu tentang kedengkian kompulsif Apa yang menyatukan Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo bukanlah kekejaman semata. Kekejaman adalah kata yang terlalu sederhana dan terlalu jujur. Yang menyatukan mereka adalah pemindahan struktural ketidaksempurnaan diri mereka sendiri kepada sebuah sasaran. Sisupalan tidak dapat menoleransi keberadaan seseorang yang kebajikannya melampaui batas toleransi mereka. Hasidin tidak dapat menahan kesuksesan seseorang yang mengingatkan mereka akan apa yang belum mereka bangun. Ashabul Fomo tidak dapat bertahan di luar ruang gema (echo chamber) yang mengesahkan pertunjukan kekesalan mereka. Ketiga arketipe ini membutuhkan penonton. Ketiganya beroperasi melalui pengulangan dan eskalasi. Ketiganya, jika dibiarkan tanpa akuntabilitas institusional atau kosmis, akan terus berlangsung hingga dihentikan. Dan ketiganya, dalam tradisi peradaban dari mana mereka berasal, pada akhirnya bertemu dengan perhitungannya: Sudarshana Chakra milik Sisupala, perlindungan ilahi dari Surah Al-Falaq, koin-koin kosong dari sistem yang korup. soe as avs, Asano ka Hak untuk Menamai Tindakan menamai bukanlah agresi. Itu adalah prasyarat akuntabilitas. Ketika Imam Ali (RA) menamai kemunafikan sebagai penyakit spiritual, ketika para Pandawa menamai perilaku Duryodhana sebagai adharma, ketika Nabi Muhammad (SAW) mengidentifikasi kategori-kategori bahaya yang darinya perlindungan harus dimohonkan, mereka sedang menjalankan tindakan paling mendasar dari kecerdasan moral: penolakan untuk membiarkan perilaku berbahaya beroperasi tanpa nama, tanpa kerangka, tanpa konsekuensi. Istilah Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo ditawarkan dalam semangat itu. Mereka adalah alat presisi, bukan sebutan kebencian. Mereka memungkinkan kita untuk mengatakan: pola perilaku ini telah dikenali di berbagai peradaban, telah dinamai oleh tradisi pemikiran moral manusia yang paling bijaksana, dan membawa dalam dirinya benih-benih perhitungannya sendiri. Orang yang menjadi sasaran tidak sendirian. Alam semesta telah menyaksikan ini sebelumnya. Dan pada akhirnya, seperti dalam Sabha Parva, seperti dalam Al-Falaq, seperti dalam Al-Kahf, orang yang bertahan dengan integritas akan bertahan lebih lama daripada orang yang mempertunjukkan kedengkian. Rahmatan lil Alamin. Berikut adalah tagar-tagar Anda dengan spasi ditambahkan di antaranya: #Sisupalan #Hasidin #AshabululFomo #RahmatiLilAlamin #Basudewakrishna #Mahabharata #AlFalaq #AlKahf #AshabululKahfi #Quran #lslamicScholarship #SanskritEpic #Sisupala #Krishna #Hasad #Envy #FOMO #DigitalHarassment #Accountability #Bowobharata #infraloka #RahmatHidayat #LegalTech #SomasiAsAService #Indonesia #Dharma #CorporateAccountability #ComparativeReligion #IslamicEthics #HinduPhilosophy #WorkplaceHarassment #NamingHarm #MoralLexicon #SurahAlFalaq, #SurahAlKahf #Mujaddid #Adharma #DigitalEthics #ITB #Cloudinfrastructure #AIEthics