Rahmat Wibowo mengklaim salah satu postingannya yang mengungkap fakta telah diturunkan dan menganggap sebuah balasan samar di X sebagai ancaman, menuduh Luca Cada Lora percaya bahwa dirinya berada di atas akuntabilitas dan hukum.
| ID | ev-20260612-003 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Luca Cada Lora |

Transkrip
Ketika kamu mengungkap kebenaran, perhatikan bagaimana mereka
merespons.
Saya membagikan sebuah postingan di Linkedin yang mendokumentasikan
masalah akuntabilitas korporat dan dalam
hitungan menit, postingan itu diturunkan.
Tidak ada penyangkalan atas tuduhan tersebut. Tidak ada bukti
tandingan. Tidak ada bantahan hukum.
Hanya sebuah respons di X (Twitter) yang kurang lebih
diterjemahkan sebagai: "Jangan ikut campur urusan
orang lain. Saya sudah memperingatkanmu saya
berbeda dari yang lain.”
Itu bukan pembelaan. Itu adalah ancaman
yang dibungkus dengan keangkuhan.
Jika tuduhan itu tidak benar, respons yang wajar
adalah membantah fakta-faktanya. Sebaliknya,
responsnya adalah: "Saya berbeda. Saya istimewa.
Hati-hati.”
Inilah pola yang persis saya
dokumentasikan, bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga
budaya di mana individu-individu tertentu percaya bahwa
mereka berada di atas akuntabilitas, di atas hukum, dan
di atas orang-orang yang telah mereka rugikan.
Menurunkan sebuah postingan tidak menghapus kebenaran.
Itu hanya menegaskan bahwa ada sesuatu yang patut
disembunyikan.
Dokumentasi terus berlanjut. Proses hukum
terus berjalan. Dan catatan publik
tetap ada.
Ini adalah Luca Cada Lora dari Jatayu Vortex
(Jatevo) VP dari Blibli Lisa Widodo
#CorporateAccountability #LegalTech
#Infraloka #WorkplaceJustice #Indonesia
#Techindonesia #HRCompliance
#LaborRights #Transparency #SpeakUp
#DigitalLaw #UUITE
#KebebasanBerpendapat #AntiHarassment
#Leadership