Rahmat Wibowo mengklaim salah satu postingannya yang mengungkap fakta telah diturunkan dan menganggap sebuah balasan samar di X sebagai ancaman, menuduh Luca Cada Lora percaya bahwa dirinya berada di atas akuntabilitas dan hukum.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo mengklaim salah satu postingannya yang mengungkap fakta telah diturunkan dan menganggap sebuah balasan samar di X sebagai ancaman, menuduh Luca Cada Lora percaya bahwa dirinya berada di atas akuntabilitas dan hukum.

Transkrip

Ketika kamu mengungkap kebenaran, perhatikan bagaimana mereka merespons. Saya membagikan sebuah postingan di Linkedin yang mendokumentasikan masalah akuntabilitas korporat dan dalam hitungan menit, postingan itu diturunkan. Tidak ada penyangkalan atas tuduhan tersebut. Tidak ada bukti tandingan. Tidak ada bantahan hukum. Hanya sebuah respons di X (Twitter) yang kurang lebih diterjemahkan sebagai: "Jangan ikut campur urusan orang lain. Saya sudah memperingatkanmu saya berbeda dari yang lain.” Itu bukan pembelaan. Itu adalah ancaman yang dibungkus dengan keangkuhan. Jika tuduhan itu tidak benar, respons yang wajar adalah membantah fakta-faktanya. Sebaliknya, responsnya adalah: "Saya berbeda. Saya istimewa. Hati-hati.” Inilah pola yang persis saya dokumentasikan, bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga budaya di mana individu-individu tertentu percaya bahwa mereka berada di atas akuntabilitas, di atas hukum, dan di atas orang-orang yang telah mereka rugikan. Menurunkan sebuah postingan tidak menghapus kebenaran. Itu hanya menegaskan bahwa ada sesuatu yang patut disembunyikan. Dokumentasi terus berlanjut. Proses hukum terus berjalan. Dan catatan publik tetap ada. Ini adalah Luca Cada Lora dari Jatayu Vortex (Jatevo) VP dari Blibli Lisa Widodo #CorporateAccountability #LegalTech #Infraloka #WorkplaceJustice #Indonesia #Techindonesia #HRCompliance #LaborRights #Transparency #SpeakUp #DigitalLaw #UUITE #KebebasanBerpendapat #AntiHarassment #Leadership