Rahmat Wibowo menyerang Luca Cada Lora karena bangga dengan IPK 2,75 sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, mencap pola pikirnya sebagai bentuk perayaan mediokrasi dalam sindiran yang bersifat pribadi dan mencemarkan nama baik.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo menyerang Luca Cada Lora karena bangga dengan IPK 2,75 sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, mencap pola pikirnya sebagai bentuk perayaan mediokrasi dalam sindiran yang bersifat pribadi dan mencemarkan nama baik.

Transkrip

Baru saja melihat sebuah profil yang benar-benar menonjol. Luca Cada Lora dengan bangga mengumumkan IPK 2,75 miliknya di Linkedin seolah itu adalah pencapaian besar yang layak dirayakan. Begini masalahnya. Dia adalah penerima Bidikmisi, sebuah program beasiswa yang dirancang khusus untuk mahasiswa yang benar-benar tidak mampu membiayai pendidikan tinggi. Tujuannya adalah untuk mendukung mereka yang paling membutuhkan agar bisa membangun masa depan yang lebih baik. Namun alih-alih memanfaatkan kesempatan itu untuk berjuang lebih keras dan memaksimalkan potensinya, ia justru terlihat menganggapnya remeh. Dia merasa dirinya istimewa, tapi pola pikir seperti ini dari seorang penerima yang telah diberi kesempatan sebesar itu terasa bermasalah. ‘Kesuksesan sejati bukan tentang menurunkan standar dan bangga dengan hasil yang biasa-biasa saja. Ini tentang rasa syukur, disiplin, dan usaha untuk mencapai keunggulan, terutama ketika orang lain telah berinvestasi pada dirimu. Untuk semua penerima Bidikmisi dan penerima beasiswa di luar sana, mari kita hargai kesempatan ini dengan membidik lebih tinggi. Dunia butuh lebih banyak dari kita yang mengubah dukungan menjadi dampak nyata. Apa pendapat kalian tentang merayakan tindakan mediokrasi di ruang profesional? Inilah orangnya, Luca Cada Lora dari Jatayu Vortex (Jatevo) VP dari Blibli Lisa Widodo #Education #Scholarship #Bidikmisi #PersonalGrowth #Accountability #HigherEducation #indonesia #CareerDevelopment