Rahmat Wibowo menceritakan seorang admin komunitas yang menanggapi permintaannya akan aturan tertulis dengan pepatah, ancaman samar, dan serangan pribadi, mengkritik ruang profesional Indonesia karena menggunakan norma budaya alih-alih tata kelola, dengan nada yang sangat kritis dan menuduh.
| ID | ev-20260616-018 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Suryadiputra Liawatimena Hammam Riza |

Transkrip
This is KORIKA Hammam Riza Suryadiputra
Liawatimena
Ketika kamu meminta aturan tertulis, kamu berhak
mendapatkan aturan tertulis. Bukan pepatah.
Saya baru-baru ini berada di sebuah grup komunitas di mana
admin mengancam akan mengeluarkan anggota
dari semua subgrup untuk pelanggaran apa pun, tanpa pandang bulu,
tanpa proses yang adil.
Saya bertanya pertanyaan sederhana: "Apakah ada aturan tertulis untuk ini? Apakah ada onboarding untuk anggota baru?"
Jawabannya? Sebuah pepatah. Lalu pepatah lain.
Lalu pertanyaan pribadi tentang status hubungan saya, yang muncul
begitu saja tanpa konteks.
Saya menyebutnya sebagai ad hominem. Karena memang
itulah yang terjadi.
Ini adalah pola yang terlalu sering saya lihat di ruang profesional dan
komunitas Indonesia. Ketika kamu menantang otoritas dengan logika dan meminta
kebijakan yang terdokumentasi, sebagian pemimpin merespons
dengan norma budaya, ancaman samar, atau
serangan pribadi, bukan dengan tata kelola.
Komunitas yang baik dibangun di atas aturan tertulis,
bukan norma tak tertulis yang hanya boleh didefinisikan oleh admin secara sepihak.
Transparansi bukanlah ketidaksopanan. Meminta akuntabilitas bukanlah
pemberontakan. Meminta onboarding yang layak adalah kebersihan
organisasi yang mendasar.
Jika komunitasmu tidak bisa bertahan hanya karena seorang anggota
bertanya "di mana aturan tertulisnya?", maka
masalahnya bukan pada anggota tersebut.
Bangunlah komunitas yang layak untuk diikuti.
#Leadership #CommunityBuilding
#tindonesia #ProfessionalCulture
#Accountability #Governance
#OrganizationalCulture #TechCommunity
#Linkedinindonesia #infraloka