Rahmat Wibowo menceritakan seorang admin komunitas yang menanggapi permintaannya akan aturan tertulis dengan pepatah, ancaman samar, dan serangan pribadi, mengkritik ruang profesional Indonesia karena menggunakan norma budaya alih-alih tata kelola, dengan nada yang sangat kritis dan menuduh.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo menceritakan seorang admin komunitas yang menanggapi permintaannya akan aturan tertulis dengan pepatah, ancaman samar, dan serangan pribadi, mengkritik ruang profesional Indonesia karena menggunakan norma budaya alih-alih tata kelola, dengan nada yang sangat kritis dan menuduh.

Transkrip

This is KORIKA Hammam Riza Suryadiputra Liawatimena Ketika kamu meminta aturan tertulis, kamu berhak mendapatkan aturan tertulis. Bukan pepatah. Saya baru-baru ini berada di sebuah grup komunitas di mana admin mengancam akan mengeluarkan anggota dari semua subgrup untuk pelanggaran apa pun, tanpa pandang bulu, tanpa proses yang adil. Saya bertanya pertanyaan sederhana: "Apakah ada aturan tertulis untuk ini? Apakah ada onboarding untuk anggota baru?" Jawabannya? Sebuah pepatah. Lalu pepatah lain. Lalu pertanyaan pribadi tentang status hubungan saya, yang muncul begitu saja tanpa konteks. Saya menyebutnya sebagai ad hominem. Karena memang itulah yang terjadi. Ini adalah pola yang terlalu sering saya lihat di ruang profesional dan komunitas Indonesia. Ketika kamu menantang otoritas dengan logika dan meminta kebijakan yang terdokumentasi, sebagian pemimpin merespons dengan norma budaya, ancaman samar, atau serangan pribadi, bukan dengan tata kelola. Komunitas yang baik dibangun di atas aturan tertulis, bukan norma tak tertulis yang hanya boleh didefinisikan oleh admin secara sepihak. Transparansi bukanlah ketidaksopanan. Meminta akuntabilitas bukanlah pemberontakan. Meminta onboarding yang layak adalah kebersihan organisasi yang mendasar. Jika komunitasmu tidak bisa bertahan hanya karena seorang anggota bertanya "di mana aturan tertulisnya?", maka masalahnya bukan pada anggota tersebut. Bangunlah komunitas yang layak untuk diikuti. #Leadership #CommunityBuilding #tindonesia #ProfessionalCulture #Accountability #Governance #OrganizationalCulture #TechCommunity #Linkedinindonesia #infraloka