Rahmat Wibowo memposting kritik investigatif yang mempertanyakan apakah para kreator konten Malaka Project, terutama Sabda PS dan Ferry Irwandi, memiliki pengalaman institusional untuk membangun sebuah universitas sungguhan, dengan berargumen bahwa usaha mereka mempertaruhkan masa depan para mahasiswa, dalam nada yang secara tajam skeptis dan menuduh.
| ID | ev-20260616-024 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Ferry Irwandi Jerome Polin Sijabat Sabda PS |

Transkrip
Hadiah Sejati Tan
Malaka:
Analisis Kritis Hadiah
Sejati Tan Malaka: Logika,
Bukan Ateisme; Daftar
Hitam
Malaka Project,
Sabda PS, dan Ferry
Irwandi
Sebuah penelusuran investigatif atas
Malaka Project, Perguruan Tinggi Malaka,
dan bahaya epistemik dari membrandingi
aktivisme sebagai reformasi pendidikan —
tanpa pengalaman institusional yang
mendasarinya.
Apa yang Sebenarnya Ditulis Tan Malaka
Tan Malaka menulis Madilog —
Materialisme, Dialektika, dan Logika — di
dalam sel penjara. Ia tidak sedang menulis
manifesto untuk ateisme. Ia sedang menulis
manual tentang cara berpikir.
Argumennya diarahkan pada sebuah
patologi tertentu: kecenderungan orang
Indonesia untuk menerima klaim berdasarkan
otoritas, tradisi, dan tekanan sosial alih-alih
bukti dan nalar. Ia menyebut ini musuh dari
pembebasan — bukan agama itu sendiri,
melainkan penghindaran terhadap
penelitian kritis.
“Madilog bukan serangan
terhadap agama. la
adalah serangan terhadap
kemalasan berpikir yang
bersembunyi di balik
agama."
— membaca tesis Tan Malaka yang
sebenarnya, bukan versi media sosialnya
. Teologi bertanya 2
Epistemologi yang buruk bukanlah milik
agama. Ia hidup di thread Twitter teknologi
sekuler, pseudosains wellness, dan forum-
forum ateis yang membalut bias pribadi
sebagai "inkuiri rasional." Semangat Tan
Malaka bukanlah "tinggalkan agama."
Melainkan: berpikirlah dengan jernih,
apa pun yang Anda yakini.
Malaka Project: Anatomi Sebuah Merek
Edtech
Diluncurkan secara resmi pada Oktober
2023 di Djakarta Theater, Malaka Project
memposisikan dirinya sebagai platform
pendidikan digital yang membangun apa
yang disebutnya Masyarakat Baru —
melalui wacana yang logis, kritis, dan
empatik. Pada September 2025, kanal
YouTube-nya telah melampaui 1 juta
pelanggan.
sf Malaka Project memenangkan
penghargaan "Konten Kreator
Inspiratif untuk
Perkembangan Indonesia"
di IDEAWARD
2024, yang diselenggarakan oleh
tvOne. Mereka telah menjalankan
program beasiswa
bersama Kapal Api dan
bermitra dengan
perusahaan telekomunikasi
Tri. Ini bukanlah kredensial
dari gerakan pinggiran — melainkan
kredensial dari sebuah merek konten
yang didanai dengan baik.
Para Pendiri
Malaka Project memiliki sembilan pendiri
dengan latar belakang yang beragam.
Sosok-sosok kunci yang mendorong
evolusinya menuju sebuah universitas
sungguhan adalah:
Pendiri & CEO
Ferry Irwandi
Kreator Konten > Intelektual Publik >
Pembangun Institusi
Lahir 16 Desember 1991 di Jambi.
Berdarah Minangkabau. Aktif dalam teater
sejak sekolah menengah sebagai aktor
dan penulis naskah.
Pendidikan: STAN (Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara); gelar magister
dari Central Queensland University,
Australia.
Karier: ~10 tahun sebagai pegawai negeri
sipil (PNS) di bidang komunikasi di
Kementerian Keuangan. Berhenti pada
November 2022 untuk menekuni pembuatan
konten secara penuh waktu.
Platform: 1,9 juta pelanggan YouTube,
2,5 juta pengikut Instagram.
Filosofi: Menyebut diri sebagai penganut
Stoikisme sejak 2017. Sering menerbitkan
kritik politik, termasuk terhadap respons
pemerintah Indonesia terhadap demonstrasi
sipil.
Hukum: Disebut dalam temuan patroli
siber TNI pada September 2025; membantah
adanya kontak dari TNI dan menyatakan
siap menghadapi proses hukum.
Penggalangan Dana: Memimpin penggalangan
dana yang mengumpulkan lebih dari Rp10
miliar untuk korban banjir Sumatra.
Co-Founder, Perguruan Tinggi Malaka
Sabda PS
Sabda Putra Subekti - lahir 1 Februari 1979
- Pendiri, Zenius Education
Secara publik menyandang label "IQ 160"
dalam konten Malaka Project. Kini turut
mengusulkan sistem universitas yang
dibangun atas filosofi bahwa mekanisme
seleksi adalah hambatan.
+ Pendidikan: Terdaftar di Teknik
Informatika (Ilmu Komputer) di ITB.
Berhenti tanpa menyelesaikan gelar —
dengan alasan ketidakpuasan struktural dan,
yang cukup dikenang, kesulitan bangun pagi
untuk kelas pagi. Mengambil kursus daring
dalam Matematika & Filsafat (University of
London) dan Antropologi (Oxford)
saat masih terdaftar di ITB.
Zenius: Didirikan pada 2004 bersama Medy
Suharta dan Wisnu Subekti. Awalnya berupa
layanan bimbingan belajar luring yang
mendistribusikan materi belajar dalam
bentuk DVD/CD-ROM. Beralih ke daring
pada 2010. Menerima investasi dari MDI
Ventures (Telkom), Northstar Group
(Patrick Walujo), Alpha JWC, Openspace
Ventures, dan Beacon Venture Capital.
Keruntuhan Zenius: PHK (pemutusan hubungan
kerja massal) atas 200+ karyawan pada Mei
2022. PHK lanjutan pada Agustus 2022 dan
Februari 2023. Operasional dihentikan pada
4 Januari 2024 — setelah 20 tahun. Alasan
resmi: "tantangan operasional." Pada puncaknya
di November 2023 sebelum penutupan,
Zenius hanya memiliki 4,1 juta kunjungan situs
bulanan dibandingkan Ruang Guru yang 21,9
juta dan Brainly yang 43,8 juta.
Pribadi: Menikah dengan sesama pendiri
Cania Citta pada 2019. Mengumumkan
perceraian pada 30 Mei 2024.
Usaha baru: Kini turut mengusulkan
Perguruan Tinggi Malaka bersama Ferry
Irwandi.
Co-Founder
Cania Citta Irlanie
Aktivis Politik - Jurnalis - Pembicara Publik
Lahir 14 Januari 1995 di Depok. Berdarah
Batak-Jawa. Dibesarkan dalam konteks
budaya Islam; kini mengidentifikasi diri
sebagai Kristen.
Pendidikan: Alumni Ilmu Politik,
Universitas Indonesia (UI).
Peran: Co-founder Malaka Project
bersama Ferry Irwandi. Pernah berbicara
di UNESA (Agustus 2025), Makassar
International Writers Festival (2025),
dan berbagai acara universitas mengenai
masa depan pendidikan.
Publikasi: Penulis Makanya, Mikir!
— sebuah buku tentang kerangka berpikir
kritis.
Kehadiran media: Dikenal karena komentar
politik yang lugas; pernah menjadi tamu
podcast dan telah menulis lagu orisinal
("Sendu," November 2024).
Co-Founder Lain yang Disebutkan
Jerome Polin (kreator konten sains/matematika),
Dea Anugrah (penulis, jurnalis), Fathia Izzati,
Rizky Ardi Prakoso, Aurelia Vizal, dan Angellie
Nabilla. Masing-masing membawa latar
belakang pembuatan konten; tidak ada satupun
yang memiliki rekam jejak formal dalam tata
kelola pendidikan tinggi institusional.
Keruntuhan Zenius: Sebuah Garis Waktu yang
Penting
Sebelum menilai apakah Sabda PS
seharusnya membangun universitas baru,
ada baiknya memeriksa lintasan institusi
terakhir yang ia jalankan dan mengapa
institusi itu gagal.
Temuan Kritis
Persiapan ujian # tata kelola pendidikan tinggi
Seluruh model bisnis Zenius selama 20 tahun
adalah bimbingan belajar tambahan untuk
membantu siswa lulus UTBK agar dapat masuk
ke universitas-universitas yang sudah ada.
Ini adalah layanan yang berharga. Namun ini
tidak sama dengan mendirikan, mengakreditasi,
menyusun staf, membiayai secara
berkelanjutan, dan mengelola secara akademik
sebuah universitas pemberi gelar.
Transfer keterampilan antara kedua domain
ini kira-kira setara langsungnya dengan
transfer keterampilan antara menjadi sopir
taksi yang hebat dan merancang infrastruktur
transit sebuah kota. Keduanya melibatkan
pergerakan. Kompetensinya hampir sepenuhnya
berbeda.
Tidak ada bukti dalam catatan publik bahwa
Sabda PS pernah bertanggung jawab atas
akreditasi kurikulum, tata kelola fakultas,
akreditasi institusi oleh BAN-PT, administrasi
bantuan keuangan mahasiswa, atau mengelola
kesinambungan akademik multi-tahun yang
diandalkan mahasiswa saat mereka mendaftar
dalam program gelar.
Masalah Dunning-Kruger dalam Reformasi
Pendidikan Indonesia
Deskripsi
Orang ber-IQ 160 bicara IQ bareng Ferry
Irwandi op (Sc )
290.117
Efek Dunning-Kruger menggambarkan bias
kognitif di mana orang dengan pengetahuan
terbatas dalam suatu bidang melebih-lebihkan
kompetensi mereka sendiri justru karena
mereka kekurangan kerangka untuk
mengenali apa yang tidak mereka ketahui.
Ini bukan komentar tentang kecerdasan
umum. Kecerdasan umum yang tinggi,
seperti dalam kasus seseorang yang
dilabeli "IQ 160," membuat kepercayaan
diri yang berlebihan menjadi lebih fasih
diungkapkan, bukan lebih tidak berbahaya.
»
Cara Masuk
Kampus Malaka
Frustrasi terhadap suatu
sistem tidak sama dengan
kompetensi untuk menggantikannya.
Kesuksesan parsial di dalam
batasan sebuah sistem — membimbing
siswa untuk masuk ke universitas-universitas
yang sudah ada bukanlah
bukti kompetensi untuk
membangun sistem yang
bersaing. Perbedaan ini
sangat penting ketika
mahasiswa mengorbankan
bertahun-tahun hidup mereka
dan seringkali tabungan
keluarga mereka.
Masalah Filter Seleksi
Menghapuskan persyaratan masuk bukan
secara otomatis berarti demokratisasi.
Mekanisme seleksi ada untuk mencocokkan
kesiapan mahasiswa dengan tuntutan
program dan untuk melindungi mahasiswa
dari mendaftar ke program yang belum
siap mereka jalani. Sebuah universitas yang
menerima siapa saja tanpa penilaian dasar
apa pun kemudian harus meluluskan siswa
yang tidak siap (merugikan) atau menurunkan
standarnya untuk memastikan kelulusan (juga
merugikan). Ada model-model yang sah untuk
pendidikan akses terbuka, tetapi model itu
membutuhkan infrastruktur pedagogis yang
luar biasa, bukan sekadar penghapusan
gerbang seleksi.
Masalah Kredensial Pengajar
Petani, seniman, dan aktivis memiliki
pengetahuan sejati yang layak ditransmisikan.
Pengetahuan eksperiensial adalah pengetahuan
yang nyata. Namun sebuah "universitas" yang
memposisikan peran-peran ini setara dengan
peneliti akademik tanpa menjelaskan bagaimana
ia akan menghasilkan lulusan bertaraf riset
adalah mencampuradukkan aktivitas epistemik
yang sangat berbeda. Pertanyaannya bukan
apakah petani mengetahui hal-hal. Melainkan
apakah gelar dari Perguruan Tinggi Malaka
akan diakui oleh pemberi kerja, sekolah
pascasarjana, dan badan lisensi profesional,
dan apa yang terjadi pada mahasiswa jika
tidak diakui.
Masalah Risiko Skala
Sebuah platform konten yang gagal masih
dapat dipulihkan. Mahasiswa dapat mencari
kanal YouTube lain. Universitas yang gagal
berdampak pada angkatan-angkatan manusia
yang telah membuat komitmen bertahun-tahun
berdasarkan janji kredensial. Asimetri risiko
antara eksperimen konten dan eksperimen
institusional bukanlah detail kecil. Itulah
seluruh persoalan etis di sini.
Agama Tidak Menyebabkan Penalaran yang
Buruk. Epistemologi yang Buruklah
Penyebabnya.
Deskripsi
Ateis maupun Beragama, yang Penting CCA!
2,4k 79.961 2024
Salah satu kesalahan paling terus-menerus
dalam wacana intelektual publik Indonesia
adalah pencampuradukan keyakinan agama
dengan kegagalan epistemologis. Pencampuradukan
ini sendiri merupakan kegagalan epistemologis.
Al-Qur'an tidak mengklaim bahwa matahari
mengorbit bumi. Orang-orang yang butuh
agar teks itu mengatakan demikian yang
membuatnya seolah mengatakan itu. Alkitab
tidak mendukung bumi datar. Komentator
yang tidak dapat memisahkan metafora dari
mekanisme membuatnya seolah mengatakan
itu. Kegagalan-kegagalan ini termasuk dalam
penalaran bermotif — sebuah pola kognitif
manusia yang universal yang muncul dengan
frekuensi yang sama dalam wacana sekuler.
"Epistemologi yang buruk ada di mana-mana:
di ruang sekuler, thread Twitter teknologi,
dek presentasi startup, pseudosains wellness,
dan forum ateis yang membalut bias pribadi
sebagai inkuiri rasional."
— Pola yang dirancang untuk didiagnosis oleh
Madilog milik Tan Malaka
Kerangka eksplisit Malaka Project —
"ateis maupun beragama, yang penting
CCA!" (Critical, Careful, dan Analytical
thinking, yang penting berpikir secara Kritis,
Cermat, dan Analitis) — pada prinsipnya
sudah benar. Pertanyaannya adalah apakah
platform ini secara konsisten menerapkan
standar tersebut pada klaim-klaimnya sendiri,
atau apakah lensa kritisnya digunakan secara
selektif hanya pada target yang secara
ideologis menguntungkan.
Kita tidak membutuhkan orang Indonesia
untuk menjadi ateis agar menjadi rasional.
Kita membutuhkan orang Indonesia untuk
menjadi rigor. Keduanya bukanlah hal yang
sama. Ketelitian (rigor) adalah warisan
sejati dari Tan Malaka.
Satu-satunya Proyek yang Layak Dibangun
PathwayAl
PathwayAl ¥
Hadiah sejati Tan Malaka bukanlah
sebuah keberpihakan politik, posisi
agama, atau merek konten. Itu adalah
satu keterampilan yang dapat ditransfer:
kemampuan untuk menginterogasi premis,
menuntut bukti yang sebanding dengan
klaim, dan memisahkan apa yang
sebenarnya dilakukan oleh sebuah teks
atau institusi dari apa yang diklaimnya
ia lakukan.
Jika diterapkan secara jujur, keterampilan
itu seharusnya diarahkan pada Malaka
Project itu sendiri — pada pertanyaan
apakah sebuah platform konten dengan
pendiri yang karismatik dan sejuta
pelanggan YouTube adalah hal yang sama
dengan sebuah institusi yang siap
mengemban tanggung jawab atas masa
depan pendidikan ribuan mahasiswa.
Visi tanpa pengalaman institusional yang
relevan dan bukti bukanlah disrupsi.
Itu adalah tebakan mahal —
dengan masa depan orang lain sebagai
mata uangnya.
— Temuan inti dari investigasi ini
Dukunglah reformasi pendidikan yang
sungguhan. Tuntutlah uji coba, data, dan
kerendahan hati — bukan karisma dan
reinvensi radikal. Semangat Tan Malaka
bukanlah "tinggalkan struktur." Melainkan:
berpikirlah dengan jernih, apa pun yang
Anda yakini, dan pegang proyek Anda
sendiri pada standar epistemik yang sama
dengan yang Anda tuntut dari orang lain.
Itulah satu-satunya proyek yang layak
dibangun.
Dibangun oleh Rahmat Wibowo dari InfraLoka
#TanMalaka #MalakaProject
#Pendidikanindonesia #EdTech
#CriticalThinking #Zenius
#IndonesiaTech #DunningKruger
#EducationReform #Indonesia
#PendidikanTinggi #Publicinterest
#Epistemology #IndonesiaEmas2045
#infraloka