Rahmat Wibowo menuduh Abil Sudarman munafik, menuding bahwa ia mengkritik pendidikan AI di Indonesia sebelum meluncurkan, melakukan rebranding, dan memasarkan sekolahnya sendiri sebagai lebih cepat dibanding sekolah lain, sambil mempertanyakan penggunaan logo perusahaan dalam iklan kursusnya.
| ID | ev-20260622-006 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Abil Sudarman (Abigail Aryaputra Sudarman) Hammam Riza |

Transkrip
Menyoroti kemunafikan yang jelas di sini.
Abil Sudarman membangun seluruh brand-nya dengan
mengkritik habis pendidikan AI di Indonesia. Terlalu
teknis untuk orang biasa. Terlalu mahal
untuk pemula. Terlalu teoritis dengan nol praktik
nyata. Ia bahkan mengakui bahwa ia melakukan
kesalahan yang sama dalam pelatihan perusahaan.
Lalu ia meluncurkan ASSAI... sebagai Abil
Sudarman School of Artificial Intelligence,
solusi besar untuk semua orang.
Belakangan ia melakukan rebranding menjadi sekadar ASSAI,
sepenuhnya membuang nama sekolah.
Sekarang ia mempromosikan program singkat sambil mengatakan
bahwa itu lebih cepat dibanding sekolah, semuanya dalam bahasa Inggris.
Jika sekolah tradisional adalah masalahnya, mengapa
membuat sekolah sendiri hanya untuk kemudian membuang
label sekolah dan memasarkannya sebagai lebih cepat dibanding
sekolah-sekolah lain?
Pesannya berubah cepat ketika produknya
adalah milik sendiri.
Menurut Anda, apakah ini rebranding yang cerdas
atau kemunafikan belaka?
Ia menggunakan banyak logo perusahaan untuk iklan kursusnya
KORIKA Hammam Riza
Microsoft Dharma Simorangkir
UNESCO Khaled El-Enany Ezz
#Al #EdTech #indonesia #ASSAI
#Artificialintelligence #Education
#Hypocrisy #Learning