Rahmat Wibowo mempublikasikan laporan kebijakan yang mempromosikan diri sendiri tentang neurodivergensi di Indonesia menggunakan kerangka kerja AEGIS miliknya, menandai kementerian pemerintah serta menandai Suryadiputra Liawatimena dan Oskar Riandi.
| ID | ev-20260622-015 |
|---|---|
| Sumber | Rahmat Wibowo LinkedIn |
| Target | Suryadiputra Liawatimena Oskar Riandi |

Transkrip
{B Indonesia memiliki ~800 psikiater untuk 278
juta orang. Itu 0,3 per 100.000.
Sementara itu, kami memperkirakan 28-56 juta
orang Indonesia adalah neurodivergen.
Tingkat deteksinya? Mendekati nol.
‘Kami baru saja merilis laporan kebijakan
komprehensif: Neurodivergence in indonesia: Deep
Research, Solutions & Systemic Roadmap
(oleh Rahmat Wibowo - InfraLoka), dan
kesenjangan sistemiknya mustahil untuk diabaikan.
Realita Saat Ini:
Pendidikan: Hanya 0,3% dari 3,3
juta guru di Indonesia yang memiliki pelatihan disabilitas apa pun.
Kesehatan: BPJS tidak menanggung terapi
ABA, yang saat ini biayanya 2-9x
pendapatan rumah tangga median.
Ketenagakerjaan: 91% penyandang disabilitas di Indonesia
bekerja di sektor informal. Kuota
ketenagakerjaan ada, tetapi penegakannya tidak.
Kebijakan: Komnas Disabilitas (KND) baru saja mengalami
pemotongan anggaran 2025 sebesar 93%.
Argumen Inti:
Neurodivergensi bukanlah masalah kesejahteraan. Ini
adalah masalah modal manusia.
Data dari program Autism at Work milik JPMorgan
menunjukkan bahwa karyawan neurodivergen
bisa 90-140% lebih produktif dalam peran-peran
tertentu. Indonesia tidak mampu menanggung biaya
dari eksklusi yang terus berlanjut.
Yang terpenting, kita harus berhenti membangun sistem
yang mensyaratkan diagnosis sebagai gerbang.
‘Ketika diagnosis klinis dijadikan
prasyarat untuk dukungan sekolah atau akomodasi
tempat kerja, itu bukan lagi kebijakan, melainkan
menjadi daftar tunggu yang tidak pernah selesai.
Solusinya (Peta Jalan 5 Tingkat Kami):
Skrining Secara Luas: Terapkan skrining
M-CHAT-R/F di semua Puskesmas.
B Dukung Secara Fungsional: Wajibkan
modul neurodivergensi dalam pelatihan guru
pra-jabatan (PPG).
Beri Insentif Inklusi: Perkenalkan
subsidi upah bagi neurodivergen (mengacu
pada EEC milik Singapura).
Sistematisasi Strategi: Tetapkan
Peraturan Presiden (Perpres) pertama
Indonesia untuk strategi neurodivergensi
nasional.
Kita perlu melakukan skrining secara luas, memberikan dukungan
berdasarkan kebutuhan fungsional, dan menyediakan diagnosis
klinis khusus untuk intervensi intensif.
Ingin membaca laporan lengkapnya yang dibangun berdasarkan
kerangka kerja AEGIS? Kirim DM ke saya atau tinggalkan
komentar di bawah dan saya akan mengirimkan PDF-nya kepada Anda.
Menandai:
Kementerian Kesehatan RI Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Ministry of
Education and Culture Republic of
Indonesia) Kementerian Sosial Republik
Indonesia Kementerian Ketenagakerjaan
Republik Indonesia Bappenas RI World
Health Organization Indonesia UNICEF
Indonesia @ILO Indonesia The World Bank
Group Indonesia Circle for Autism (Yayasan
‘Autisma Indonesia) Into The Light
Indonesia (Yayasan Insan Teman Langit)
SG Enable
KORIKA Suryadiputra Liawatimena Oskar
Riandi
Ikatan Alumni Informatika (IAIF) ITB
Muhamad Fajrin Rasyid
Institut Teknologi Bandung Tatacipta
Dirgantara Tutun Juhana
IAITB Jakarta Ikatan Alumni ITB Agustin
Peranginangin
ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas
Indonesia) Pramudya A. Oktavinanda
#Neurodivergence #indonesia
#AutismAwareness #ADHD
‘#Disabilityinclusion #HumanCapital
#PolicyResearch #inklusifindonesia
#MentalHealth #infraLoka #PublicHealth
#NeurodiversityatWork