Rahmat Wibowo memposting ulasan mendetail tentang buku metode belajar karya Prof. Amrinsyah Nasution, tetapi membingkainya sebagai pesan tajam kepada Rahmat Fabhian Aminuddin, secara publik mencapnya sebagai dugaan pelaku kecurangan akademik dengan IPK di bawah 3.0, sehingga merusak reputasinya.
| ID | ev-20260728-015 |
|---|---|
| Sumber | Infraloka Blog |
| Target | Rahmat Fabhian Aminuddin |

Transkrip
Apakah Anda Sudah
Belajar dengan Rajin?
Studi Kasus
Rahmat Fabhian
Aminuddin
Rahmat Wibowo - 1 Juni 2026
Apakah Anda Sudah Belajar
dengan Rajin?
Pembacaan mendalam terhadap Metode Belajar 24 Jam
karya Prof. I. Amrinsyah Nasution, MSCE,
Ph.D. dan apa maknanya bagi setiap mahasiswa
yang menavigasi era baru pendidikan
tinggi Indonesia
sucine Sah a ae ae
ese on he Sine
apt tar eat)
ona teak jr Peng
es awe
veces ete hi Tm Mange
serena career st neg ig 7 eyo
hans roenmen eenerne
deo
Ada satu pertanyaan di sampul buku ini
yang sekaligus sederhana dan
menghancurkan: "Apakah Anda sudah
belajar dengan rajin?" Sebagian besar mahasiswa
secara instingtif akan menjawab
ya. Prof. Amrinsyah
Nasution menghabiskan seluruh buku untuk membuktikan,
dengan data, kesaksian, dan
neurosains, bahwa jawaban jujur bagi
mayoritas dari kita adalah tidak, dan bahwa cara
kita mendefinisikan "belajar" itu sendiri
adalah masalahnya.
Ini bukan pamflet motivasi lain yang
berkedok buku teks. Metode Belajar 24 Jam
(MB 24) adalah intervensi perilaku yang
terstruktur, didukung bukti, dan teruji di lapangan,
dikembangkan selama
lima tahun di program Teknik Sipil ITB. Metode ini
telah diterapkan pada mahasiswa
sarjana (S1), pascasarjana (S2), dan
doktoral (S3). Hasil-hasil
yang tercatat dalam buku ini bukanlah
cerita anekdotal yang sekadar menghibur. Hasil-hasil tersebut
terukur: mahasiswa meraih penghargaan
Dean's List, lulus tepat waktu,
memenangkan kompetisi nasional,
dan menggambarkan
transformasi mendasar dalam
hubungan mereka dengan waktu, fokus, dan
tanggung jawab.
Konteks Nasional: Mengapa Ini
Buku ini dibuka dengan kerangka kebijakan
yang kritis dan tepat waktu. Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) menerbitkan
Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 tentang
Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi,
yang secara mendasar mengubah apa artinya
menyelesaikan gelar sarjana di
Indonesia.
Di bawah regulasi baru ini, mahasiswa
sarjana (S1) dan sarjana terapan (D4)
tidak lagi diwajibkan menulis skripsi sebagai
syarat kelulusan, asalkan program mereka
telah mengadopsi kurikulum berbasis proyek
atau alternatif setara. Tugas akhir
kini dapat berupa
prototipe, proyek kelompok, atau
luaran inovatif lainnya. Perubahan ini
diposisikan sebagai suatu pembebasan, karenanya judul
seri "Merdeka Belajar", namun
hal ini juga menempatkan tanggung jawab yang lebih besar
pada institusi maupun mahasiswa.
Argumen Prof. Amrinsyah tepat:
ketika Anda menghilangkan struktur
wajib penulisan skripsi, Anda mengungkap
sesuatu yang sebenarnya selalu ada namun
sebelumnya tersembunyi di balik kepatuhan prosedural.
Kemampuan untuk belajar, mengelola diri
sendiri, dan mempertahankan usaha dari waktu ke waktu
adalah softskill, dan pendidikan tinggi
Indonesia tidak pernah secara formal mengajarkannya.
Di sinilah MB 24 hadir, bukan sebagai
solusi alternatif atas ketatnya standar akademik, melainkan sebagai
infrastruktur yang selama ini hilang di baliknya.
Bab 1: Softskill
Belajar
Bab pertama mendasarkan buku ini
pada regulasi sebelum beralih ke praktik.
Penulis menelusuri standar-standar
yang mengatur proses pembelajaran di bawah
kerangka baru, khususnya Pasal 14,
yang mengamanatkan bahwa pembelajaran harus
menyenangkan, inklusif, kolaboratif,
kreatif, dan efektif, sambil
menjamin kesempatan yang setara
terlepas dari latar belakang pendidikan, sosial,
ekonomi, atau budaya.
Apa yang tidak dijelaskan secara spesifik oleh regulasi tersebut, penulis
menunjukkan, adalah metodenya. Bagaimana Anda
menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan efektif? Bagaimana Anda melatih
mahasiswa untuk kolaboratif ketika seluruh
pendidikan menengah mereka menghargai
kinerja individual? Kebijakan
menciptakan aspirasi. MB 24 menyediakan
satu jalur konkret menuju hal tersebut.
Bab ini membangun kerangka tripartit
untuk softskill belajar yang diambil
dari karya Stephen Covey:
ed
MB 24 diposisikan sebagai
mesin praktis untuk mengembangkan kemenangan pribadi
terlebih dahulu. Tanpa fondasi kemampuan
mengelola waktu, energi,
dan perhatian sendiri, tidak ada jumlah pembelajaran kolaboratif
atau fleksibilitas kurikulum yang dapat
menghasilkan lulusan yang unggul.
Bab 2: Pelajaran dari
Mahasiswa Nyata
Bab ini merupakan inti emosional dari
buku ini. Alih-alih berteori tentang
perilaku mahasiswa, Prof. Amrinsyah
mengumpulkan kesaksian orang pertama dari
mahasiswa yang menerapkan MB 24 selama
beberapa semester. Kisah-kisahnya
mencolok karena kejujurannya.
"Saya tidak pernah berpikir ada metode belajar
seperti MB24. Sangat sulit
untuk membiasakan diri pada awalnya. Namun, seiring
waktu berjalan, jam tubuh Anda akan
terbiasa. Sebelum saya mengenal MB24, seluruh
jadwal saya terasa berat bagi saya dan saya akan pulang
dalam kondisi sangat
kelelahan." Nyoman Triani Herlina Dewi,
SE, ST, MT
Seorang mahasiswa menggambarkan bagaimana, sebelum MB
24, ia selalu pulang
ke rumah dalam keadaan kelelahan tanpa pemahaman yang jelas
tentang ke mana waktunya menghilang. Setelah dua semester
melacak aktivitas hariannya terhadap target belajar minimum
11 jam, ia
menyadari jam tubuhnya menyesuaikan diri
secara alami. Ia berhenti membutuhkan penegakan
eksternal. Kebiasaan itu telah menjadi
internal.
Mahasiswa lain, Hanang Pandu
Himawan, mengakui bahwa MB 24 secara langsung berperan pada
kemampuannya meraih penghargaan juara ke-2 dalam
kompetisi CENS yang diselenggarakan oleh
Universitas Indonesia sambil
sekaligus mengelola beban akademik yang berat di
semester 5 di ITB.
Grafik pelacakannya, yang disertakan dalam buku ini, menunjukkan
korelasi antara jam belajar yang konsisten
dan lonjakan kinerja pada
periode-periode penting.
Mahasiswa ketiga menceritakan penerapan MB 24
sejak minggu pertamanya di ITB, diperkenalkan
dengannya selama acara matrikulasi Bidikmisi.
Ia lulus dengan IP 4,0 selama
dua tahun berturut-turut dan menerima
penghargaan Dean's List dari FTSL. Ia
mengaitkan ini bukan pada kecerdasan, melainkan pada
kematangan perencanaan belajarnya,
100%
Angka-angka ini tidak disajikan sebagai
pemasaran. Angka-angka ini disajikan sebagai
bukti. Perbedaan antara
mahasiswa yang menerapkan metode ini dan
yang tidak terlihat jelas pada tingkat kelulusan,
trajektori IPK, dan kinerja kompetisi.
Datalah yang menjadi argumennya.
Bab 3: Apakah Anda Belajar
dengan Rajin? Ilmu tentang Grit
dan Jam Tubuh
Di sinilah buku ini beralih ke ilmu
pembelajaran, dan hal itu dilakukan dengan kedalaman
intelektual yang autentik. Penulis membuka dengan
karya Angela Lee Duckworth,
psikolog di University of
Pennsylvania, yang menyimpulkan bahwa IQ dan
bakat bawaan bukanlah prediktor yang dapat diandalkan
untuk kesuksesan jangka panjang. Yang lebih penting adalah
kombinasi antara pengendalian diri dan grit,
yang didefinisikan bukan sebagai lari cepat melainkan sebagai maraton.
Kerangka Jam Tubuh
Kontribusi paling orisinal dan berbasis ilmiah
dari bab ini adalah konsep jam tubuh sebagai
sistem yang dapat dipelajari dan dilatih. Penulis
menjelaskan bahwa jam tubuh manusia
dikendalikan oleh hipotalamus, sebuah
organ otak yang mengoordinasikan sekelompok
sekitar 10.000 sel saraf. Sistem
biologis ini mengatur kapan kita merasa
waspada, kapan kita merasa lapar, dan kapan kita
merasa siap untuk beristirahat.
MB 24 dirancang untuk memanfaatkan sistem ini
daripada melawannya. Dengan
secara konsisten melakukan aktivitas tertentu
pada waktu tertentu selama berminggu-minggu,
seorang mahasiswa melatih hipotalamusnya
untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk aktivitas tersebut.
Hasilnya, dikonfirmasi dalam
berbagai kesaksian mahasiswa dan
grafik pelacakan dalam buku ini, adalah bahwa
belajar pada jam yang tetap akhirnya berhenti
terasa seperti disiplin dan mulai terasa
seperti kebutuhan tubuh yang alami.
"Perlahan-lahan, tanpa saya sadari, saya menjadi jauh
lebih rajin dan merasa bersalah setiap kali
saya belum memenuhi target belajar 11 jam
saya." Amatulhay Pribadi, kesaksian mahasiswa ITB
Ini bukan metafora. Penulis
menggambarkan sebuah proses pengondisian
neurobiologis yang genuine. Ketika jam
tubuh mengambil alih, mahasiswa tidak lagi
bergantung pada motivasi, kemauan, atau
tekanan eksternal. Perilaku itu telah
diinternalisasi pada tingkat fisiologis.
Bab 4: Kampus Merdeka dan
Mekanisme MB 24
Bab ini adalah panduan operasional. Bab ini
menguraikan bagaimana MB 24 sebenarnya bekerja dalam
praktik, mencakup aturan kompensasi,
alokasi materi, postur saat belajar,
interval istirahat mata, dan pembedaan
antara kategori belajar pagi, siang, dan
malam.
Aturan Kompensasi dan Penggantian
Salah satu fitur MB 24 yang paling kurang dihargai
adalah mekanisme akuntabilitas bawaannya.
Jika seorang mahasiswa gagal memenuhi
jam belajar minimum harian untuk suatu aktivitas,
kekurangan tersebut harus
dikompensasi keesokan harinya dengan
mengambil waktu dari aktivitas non-esensial
lainnya. Sistem ini tidak memungkinkan
mahasiswa untuk sekadar "me-reset" setiap pagi
dan mengabaikan kegagalan hari sebelumnya.
Sebagai contoh, jika waktu belajar ekstrakurikuler
di luar kelas hanya 2 jam padahal
targetnya 4 jam, keesokan harinya
waktu luang mahasiswa tersebut dikurangi 2
jam untuk membayar utang tersebut. Ini menciptakan
insentif berantai untuk memenuhi target harian
secara konsisten alih-alih menggenjot belajar sebelum
ujian.
Realitas Drop-Out di ITB
Bab ini tidak menghindari
statistik yang tidak nyaman. Antara 5 dan
10 persen dari setiap angkatan baru di ITB
drop out selama empat semester pertama.
Mereka gagal memenuhi persyaratan IPK minimum
TPB (Tahap Persiapan Bersama). Rektor ITB, dikutip dalam
buku ini, mengidentifikasi penyebab utama
bukan karena kurangnya kecerdasan melainkan kegagalan untuk
beradaptasi secara sosial dan akademik setelah
transisi dari sekolah menengah.
Mahasiswa yang menjadi berprestasi terbaik di
sekolah menengah mereka sering kali tiba di ITB dan
mendapati diri mereka dikelilingi oleh rekan-rekan yang sama-sama
mampu. Tanpa perancah sosial
yang sebelumnya mereka andalkan, dan
tanpa keterampilan manajemen diri, banyak yang
kolaps. Masalahnya bukan kognitif. Ini
adalah perilaku. MB 24 mengatasi hal ini
secara langsung.
Bab 4 (lanjutan): Kerangka Tujuh
Kebiasaan Diterapkan pada
Kehidupan Universitas
Prof. Amrinsyah secara eksplisit mengintegrasikan
Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey
ke dalam kerangka pedagogis MB 24. Ia mengakui
kebutuhan untuk menyesuaikannya untuk konteks
fakultas teknik dan menambahkan integritas sebagai
nilai eksplisit yang disebutkan secara jelas, bukan dibiarkan
implisit dalam Kebiasaan 7.
uimgnsne Manone _—_Desgnoremae era an
ndieiod Beer parce rea rine
'etsy aty a mar han comgsson
>a
Penulis menambahkan catatan bahwa para
dosen harus mencontohkan kebiasaan-kebiasaan ini. Jika seorang
dosen selalu datang terlambat, mereka tidak
memiliki otoritas moral untuk menuntut ketepatan waktu
dari mahasiswa. Jika seorang dosen tidak bisa bekerja
secara kolaboratif, mereka tidak bisa secara realistis
mengharapkan kerja sama tim dari kelas mereka.
Karakter ditransmisikan melalui
contoh, bukan instruksi.
Masalah Multi-Tasking: Sebuah
Peringatan yang Didukung Riset
Salah satu bagian yang paling penting dan
relevan secara praktis dari buku ini
adalah pembahasannya tentang multi-tasking, sebuah
perilaku yang mendefinisikan bagaimana kebanyakan mahasiswa modern
belajar. Penulis mengutip berbagai
studi riset untuk membangun argumen yang menghancurkan
terhadapnya.
Sebuah studi terhadap 263 siswa dari tingkat sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan
universitas menemukan bahwa ketika diamati selama
sesi belajar 15 menit, siswa
sebenarnya belajar hanya 65 persen dari
waktu tersebut. Dalam dua menit
setelah memulai, mereka sudah mulai
memeriksa media sosial dan membalas
pesan.
Riset oleh Profesor Kraushaar dan
Novak dari University of Vernon menemukan
bahwa mahasiswa menggunakan laptop mereka untuk tujuan
non-akademik selama 42 persen
waktu kelas, bahkan ketika mereka tahu bahwa aktivitas mereka
sedang dipantau.
David Meyer, seorang profesor psikologi
di University of Michigan, menjelaskan biaya
kognitifnya secara tepat. Otak tidak dapat
secara genuine mengeksekusi dua tugas kompleks
secara bersamaan. Yang dilakukannya sebagai gantinya
adalah pergantian tugas yang cepat, yang membawa empat
biaya yang menumpuk: waktu yang lebih lama
untuk menyelesaikan setiap tugas karena perlu
membiasakan ulang, tingkat kesalahan yang meningkat akibat
kelelahan mental, pembentukan memori yang terdegradasi
akibat gangguan selama
pengkodean, dan penyimpanan informasi dalam
bentuk yang kurang berguna ketika perhatian
terbagi.
"Mempertahankan konsentrasi dan fokus adalah
yang membedakan seorang ahli dari seorang
amatir, dan seorang performer bintang dari performer
rata-rata." Daniel Goleman, sebagaimana dikutip
oleh Prof. Amrinsyah
Implikasinya bagi MB 24 adalah bahwa
desakan metode ini untuk belajar yang fokus,
tanpa gangguan, dan dengan postur yang benar di
meja bukanlah ketegasan yang sewenang-wenang. Ini
adalah respons langsung terhadap apa yang diberitahukan neurosains
kepada kita tentang bagaimana pembelajaran dikodekan,
dipertahankan, dan dapat diambil kembali.
Tiga Arketipe Kurva
Pembelajaran
Bagian analitis terakhir memperkenalkan
apa yang penulis sebut sebagai tiga kurva pelacakan
tipikal yang mengungkap karakter dan kebiasaan
belajar seorang mahasiswa. Kurva-kurva ini
muncul secara alami ketika mahasiswa memetakan
jam belajar mingguan aktual mereka terhadap target
mereka selama satu semester penuh.
Kurva A: Manajemen Waktu yang Tidak
Disiplin Jam belajar dimulai tinggi pada
minggu-minggu awal semester, kemudian
menurun drastis seiring kebiasaan dan
kebaruan metode baru memudar. Ada
lonjakan singkat sebelum ujian tengah semester, kemudian
menurun lagi, dan pemulihan yang panik
sebelum ujian akhir. Ini adalah mahasiswa
"upaya instan": reaktif, tidak konsisten,
dan selalu kelelahan.
Kurva B: Keselarasan Jam Tubuh Alami
Kurva ini menunjukkan jam belajar yang konsisten dan relatif
stabil sepanjang
semester dengan hanya fluktuasi kecil
di sekitar periode ujian. Fokus dan perhatian
mahasiswa telah menjadi kebiasaan,
artinya mereka tidak membutuhkan tekanan
dari tenggat waktu yang mendekat untuk
mengaktifkan disiplin mereka. Ini adalah hasil
target dari MB 24.
Kurva C: Pecandu Kerja Kurva ini
menunjukkan jam belajar yang secara kronis berlebihan
yang melampaui apa yang sehat atau
berkelanjutan. Meskipun mungkin tampak
mengagumkan pada pandangan pertama, penulis
memperingatkan bahwa pola ini berkorelasi dengan
kemunduran fisik, perilaku anti-sosial,
sikap kemandirian sampai ke titik
isolasi, dan sikap meremehkan
terhadap rekan-rekan. Kegilaan kerja bukanlah
keunggulan. Ini adalah bentuk ketidakseimbangan
yang pada akhirnya merusak dimensi kemenangan publik
dalam pengembangan mahasiswa.
Apa yang Membuat Buku Ini
Luar Biasa
Beberapa kualitas membedakan buku ini
dari perpustakaan luas literatur "cara belajar"
generik yang memenuhi toko buku universitas
di seluruh Indonesia.
Buku ini berlandaskan empiris. Setiap klaim dalam
buku ini didukung baik oleh data
dari mahasiswa ITB yang menerapkan
metode ini, oleh riset yang ditinjau sejawat dalam
psikologi dan neurosains, atau oleh
dokumen kebijakan resmi. Penulis
tidak membuat pernyataan tanpa
bukti.
Buku ini menghormati agensi mahasiswa. MB 24 tidak
memberi tahu mahasiswa apa yang harus dipelajari atau bagaimana
harus berpikir. Metode ini menciptakan sebuah struktur waktu dan
perhatian di mana setiap mahasiswa,
terlepas dari jurusan atau tingkat akademik,
dapat beroperasi. Metode ini agnostik
terhadap disiplin ilmu. Seorang mahasiswa teknik dan
seorang mahasiswa ilmu sosial dapat sama-sama menerapkannya
tanpa modifikasi.
Buku ini jujur tentang kesulitan. Berbagai
kesaksian mahasiswa mengakui bahwa
dua hingga tiga bulan pertama menerapkan
MB 24 sungguh sulit. Tubuh
menolak ritme baru tersebut. Godaan untuk
kembali ke kebiasaan lama sangat kuat. Penulis
tidak menjanjikan transformasi yang mulus.
Ia menjanjikan bahwa transformasi
itu mungkin dan layak untuk dikejar.
Buku ini menghubungkan perilaku individu dengan
hasil nasional. Penulis secara eksplisit
menghubungkan tingkat drop-out di ITB dengan
ketiadaan pengembangan softskill yang
terstruktur. Ia menghubungkan ini dengan
agenda Kampus Merdeka yang lebih luas,
dengan berargumen bahwa kebebasan tanpa disiplin
bukanlah pembebasan; itu adalah kehanyutan. Ini adalah posisi yang
secara politik dan pendidikan berani.
Buku ini menanamkan pendidikan karakter tanpa
menggurui. Integrasi kerangka Tujuh
Kebiasaan, penekanan pada grit,
dorongan untuk keseimbangan sosial pada
akhir pekan, dan peringatan terhadap
kegilaan kerja semuanya mencerminkan visi holistik tentang
apa yang seharusnya menjadi seorang lulusan universitas. Namun
tidak satu pun dari ini disampaikan dengan nada
menggurui atau merendahkan. Penulis membiarkan data
dan suara mahasiswa yang
meyakinkan.
Kritik Jujur
Tidak ada ulasan yang lengkap tanpa
mengakui di mana buku ini masih memiliki ruang untuk berkembang.
Buku ini ditulis terutama dari dalam
konteks pendidikan teknik di
ITB. Kesaksian, data, dan
referensi institusional hampir
seluruhnya berasal dari FTSL. Pembaca dari
program ilmu sosial, humaniora, atau seni mungkin
menemukan sebagian kerangka kuantitatif tentang jam belajar
agak mekanistis untuk konteks mereka. Edisi mendatang
dapat memperoleh manfaat dari suara dan data lintas
berbagai disiplin ilmu.
Selain itu, buku ini tidak membahas secara mendalam
alat digital dan perannya dalam
manajemen belajar. Pada tahun 2024 dan seterusnya,
mahasiswa menavigasi bukan hanya
gangguan WhatsApp dan SMS tetapi
platform video pendek berbasis algoritma
yang beroperasi pada skala keterlibatan kompulsif
yang tidak seperti apa pun yang bisa diantisipasi oleh Covey atau
Goleman. Wawasan inti dari MB 24 tetap
valid, tetapi
edisi terbarukan yang membahas manajemen waktu layar
dan alat fokus digital
akan secara signifikan memperluas jangkauan buku ini.
Terakhir, buku ini tidak sepenuhnya membahas
mahasiswa dengan tantangan kesehatan mental,
disabilitas, atau keadaan hidup yang sangat tidak standar.
Target aktivitas harian 11 jam mungkin perlu
kalibrasi kontekstual
untuk mahasiswa yang mengelola penyakit kronis,
kewajiban keluarga yang signifikan, atau kendala lainnya.
Sebuah kerangka singkat untuk
adaptasi akan membuat metode ini
lebih inklusif, konsisten dengan mandat kesetaraan
Pasal 14 yang dikutip sendiri oleh penulis.
Sebuah Penghargaan untuk Arsitek
Merdeka Belajar: Nadiem Anwar
Makarim
Akan menjadi tidak jujur secara intelektual untuk
membahas buku ini, judul serinya, dan
lanskap regulasi yang ia libatkan,
tanpa berhenti sejenak untuk menghormati orang yang
membuat semua ini mungkin dalam skala nasional.
Nadiem Anwar Makarim, sebagai Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi Republik Indonesia
dari tahun 2019 hingga 2024, memprakarsai dan mendorong
salah satu agenda reformasi pendidikan
paling ambisius dalam sejarah modern
Indonesia: Merdeka Belajar.
Sebelum Pak Nadiem menjabat,
pendidikan tinggi Indonesia beroperasi
di bawah kerangka standar yang
terpusat dan preskriptif. Persyaratan kelulusan
seragam, hasil-hasil diamanatkan
dari atas, dan otonomi kreatif
universitas, fakultas, dan mahasiswa
sangat dibatasi. Sistem tersebut mengukur
input, kehadiran, jam kredit,
tugas tertulis alih-alih pengembangan
sejati kapasitas seorang lulusan untuk
berpikir, beradaptasi, dan berkontribusi.
Pak Nadiem datang dengan filosofi
yang secara fundamental berbeda. Ia berasal dari
dunia membangun dan mengembangkan organisasi teknologi,
di mana kualitas pemikiran, inisiatif, dan
kapasitas kolaboratif seseorang jauh lebih penting
daripada kemampuannya untuk mematuhi
prosedur yang tetap. Ia melihat dengan jelas apa yang
telah puluhan tahun terlewatkan oleh para administrator akademik yang
sudah terlalu terbiasa: mahasiswa
Indonesia lulus dengan sertifikasi teknis tetapi
terlalu sering kurang siap untuk
dunia yang menuntut kreativitas, arah diri,
dan ketahanan.
Warisan Merdeka Belajar dari Nadiem
Anwar Makarim. Di bawah kepemimpinannya,
Kemendikbud meluncurkan lebih dari 26
episode reformasi kebijakan Merdeka Belajar. Tonggak
utama meliputi penghapusan Ujian
Nasional (UN) wajib untuk sekolah menengah,
kerangka Kampus Merdeka yang memberikan
mahasiswa kebebasan untuk belajar di luar
fakultas asalnya hingga 3 semester,
Permendikbudristek No. 53/2023
yang membebaskan universitas dari persyaratan
skripsi wajib, program MSIB (Magang
dan Studi Independen Bersertifikat)
yang menghubungkan mahasiswa dengan pengalaman industri
nyata, dan program Guru
Penggerak yang berinvestasi dalam
kepemimpinan guru yang transformatif. Masing-masing
reformasi ini menunjuk ke arah yang sama:
percayai pembelajar, bebaskan
proses, dan ukur apa yang benar-benar
penting.
Fakta bahwa buku Prof.
Amrinsyah ini dibingkai di bawah bendera
"Merdeka Belajar: Pengembangan
Softskill Belajar Mahasiswa" itu sendiri adalah
bukti dari ruang intelektual yang
dibuka oleh Pak Nadiem. Sebelum Merdeka
Belajar, sebuah buku yang berargumen bahwa pengembangan softskill
harus diperlakukan sebagai luaran akademik inti,
setara dengan kompetensi
teknis, akan kesulitan menemukan
rumah kebijakannya. Setelah
Merdeka Belajar, ini cocok secara alami dan
mendesak ke dalam percakapan nasional.
Kritikus terhadap masa jabatan Pak Nadiem sering
berfokus pada kecepatan implementasi,
gangguan pada periode transisi, atau
kesiapan yang tidak merata di antara institusi-institusi di seluruh
kepulauan Indonesia yang luas. Ini adalah
observasi administratif yang adil. Namun
visi arah yang ia bawa ke
pendidikan Indonesia sudah benar. Ia
mengajukan pertanyaan yang tepat: bukan "apakah
mahasiswa telah memenuhi persyaratan?" tetapi
"apakah mahasiswa benar-benar telah belajar?" Pergeseran
kerangka itulah yang secara tepat memberi buku-buku seperti
ini legitimasi moral dan kebijakannya.
Reformasi dalam pendidikan tidak pernah tanpa rasa sakit. Namun
rasa sakit dari perubahan selalu lebih kecil daripada
rasa sakit karena tetap diam dalam dunia yang
semakin cepat meninggalkan Anda. Pak Nadiem memilih
pergerakan, dan mahasiswa Indonesia adalah
penerima manfaatnya. Refleksi dari
peninjau
Saat Pak Nadiem melangkah maju melampaui
bab kementeriannya, saya ingin menyampaikan,
atas nama setiap mahasiswa Indonesia
yang mendapat manfaat dari Merdeka Belajar,
rasa terima kasih yang tulus dan mendalam. Reformasi
yang ia dorong mungkin membutuhkan satu generasi penuh
untuk sepenuhnya terwujud dalam hasil. Mahasiswa
yang memasuki universitas hari ini di bawah
kerangka Kampus Merdeka, dipandu oleh
buku-buku seperti ini, akan menjadi bukti hidup
dari apakah visi tersebut benar. Saya percaya
mereka akan menjadi bukti itu. Saya percaya visinya benar.
Dan saya percaya Pak Nadiem pantas melihat
pembenaran itu dengan mata kepalanya sendiri dalam
tahun-tahun mendatang.
Jalan apa pun yang ia tempuh selanjutnya, semoga
ditemui dengan keunggulan, rasa hormat, dan
pengetahuan bahwa benih yang ia tanam dalam
pendidikan Indonesia masih terus tumbuh.
Sebuah Pesan Untuk Teman Saya
Rahmat Fabhian Aminuddin
Yang Dituduh Melakukan
Kecurangan Akademik Dengan IPK Di Bawah 3.0
Siapa yang Harus Membaca Buku Ini
Sampul buku ini dengan tepat mengidentifikasi tiga
audiens: mahasiswa tahun pertama universitas,
mahasiswa dengan IPK di bawah 3.0, dan
mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, tesis, atau
penelitian doktoral. Saya akan menambahkan beberapa
lagi.
Dosen dan anggota fakultas sebaiknya
membaca buku ini karena buku ini menantang
para profesor untuk memeriksa kebiasaan mereka sendiri
dan bagaimana kebiasaan tersebut mencontohkan atau
merusak budaya yang mereka klaim ingin
ada di kelas mereka.
Orang tua mahasiswa universitas sebaiknya
membaca buku ini karena buku ini menjelaskan, secara jelas
dan tanpa menyalahkan, mengapa transisi
dari sekolah menengah ke universitas gagal bagi begitu banyak
mahasiswa yang sebelumnya sangat baik. Masalahnya
hampir tidak pernah kecerdasan. Ini adalah
persiapan untuk manajemen diri.
Pembuat kebijakan pendidikan dan perancang kurikulum
sebaiknya membaca buku ini karena buku ini
membuat argumen yang meyakinkan bahwa Merdeka
Belajar tanpa pengembangan softskill bergaya MB 24
adalah reformasi yang tidak lengkap.
Membebaskan mahasiswa dari persyaratan skripsi
wajib tanpa memberi mereka
struktur internal untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri
adalah menawarkan sebuah peta tanpa
kompas.
Dan terakhir, para profesional yang bekerja yang
merasa secara kronis tidak disiplin dengan waktu dan
perhatian mereka sebaiknya membaca buku ini.
Ilmu jam tubuh berlaku bagi
siapa pun. Integrasi Tujuh Kebiasaan
secara universal relevan. Peringatan tentang
multi-tasking berlaku bagi setiap pekerja pengetahuan
di planet ini.
Artikel ini mencerminkan pembacaan dan
ulasan pribadi terhadap buku ini. Semua konten
faktual diambil langsung dari teks,
kesaksian mahasiswa, dan data yang disertakan
oleh penulis. Pandangan yang diungkapkan adalah
pandangan dari peninjau.
#NadiemMakarim #MerdekaBelajar
#HigherEducation #StudyMethod
#MetodeBelajar24Jam #ITB
#LearningScience #Softskill
#TimeManagement
#IndonesiaEducation
#CharacterEducation #Grit
#BodyClock #StudentLife
#KampusMerdeka #Neuroscience
#SevenHabits #PersonalDevelopment
#AcademicSuccess #BookReview
#PendidikanTinggi #infraloka
#RahmatWibowo