Rahmat Wibowo menuduh Abil Sudarman (Abigail Aryaputra Sudarman) dan Marchel Shevchenko mengajukan klaim gelar asing yang tidak dapat diverifikasi, menimbulkan keraguan atas kredensial mereka sekaligus membingkai celah verifikasi gelar asing di Indonesia sebagai kegagalan integritas sistemik yang harus segera ditutup oleh kementerian.
| ID | ev-20260728-017 |
|---|---|
| Sumber | Infraloka Blog |
| Target | Abil Sudarman (Abigail Aryaputra Sudarman) Marchel Shevchenko |

Transkrip
Titik Buta Indonesia:
Celah Ijazah Luar Negeri
yang Membiarkan Penipuan
Berkembang di Depan Mata,
Abil Sudarman dan
Marchel Shevchenko
Rahmat Wibowo - 1 Juni 2026
Titik Buta Indonesia:
Celah Ijazah Luar Negeri yang
Membiarkan Penipuan Berkembang
di Depan Mata
Ketika sebuah ijazah berasal dari luar negeri,
seluruh infrastruktur verifikasi
Indonesia menjadi bisu. Kasus Abil
Sudarman dan Marchel Shevchenko
bukanlah masalahnya. Ini adalah gejalanya.
Ada retakan dalam sistem kredensial
pendidikan Indonesia yang cukup lebar
untuk melewatkan sebuah karier. Dan retakan
itu sudah ada selama bertahun-tahun, sebagian besar
diabaikan oleh kementerian yang justru bertugas
untuk menutupnya.
Mari kita bahas apa yang terjadi dengan Abil
Sudarman dan Marchel Shevchenko.
Kasus Abil Sudarman: Cermin
bagi Masalah Sistemik
€ (cari)
Education (3)
University of London
amber, Computer Science, Computer Science (AIML)
Saya sedang memverifikasi
klaim pendidikan yang dibuat secara publik oleh
seseorang
Seseorang bernama
ABIGAIL ARYAPUTRA SUDARMAN
mengklaim
London dengan
Abil Sudarman, yang nama lengkapnya adalah Abigail
Aryaputra Sudarman, mencapai popularitas
publik yang signifikan pada 2026. Ia membangun
sebuah dasbor pemantauan pengadaan berbasis AI
bernama Nemesis Assai,
mendapat pemberitaan dari media besar
termasuk Tempo.co, dan memosisikan
dirinya secara publik sebagai pakar AI, konselor
karier, Direktur Eksekutif di KORIKA
(Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri AI
Indonesia), manajer proyek AI UNESCO,
dan Responsible AI Fellow di
Stimson Center di Washington D.C.
Profil publiknya mencantumkan pendidikannya sebagai
Computer Science di University of
London.
Sumber lain menyebutkan
University of Liverpool.
Ada perbedaan antara kedua
institusi tersebut. Mereka bukan universitas yang
sama. University of London adalah
sistem federasi yang mencakup
banyak perguruan tinggi. University of
Liverpool adalah institusi Russell Group
yang terpisah dan berdiri sendiri, yang menempati
peringkat 180 teratas secara global menurut QS World University
Rankings 2026. Kedua hal ini tidak
dapat dipertukarkan begitu saja, dan menukarnya
secara sembarangan dalam sebuah profil profesional
setidaknya merupakan tanda bahaya yang
patut dicermati.
Di mana pun, ini adalah pertanyaan yang mengungkap
masalah sebenarnya: Bisakah Anda memverifikasi apakah
Abil Sudarman benar-benar lulus dari salah satu
dari kedua institusi tersebut melalui sistem pemerintah
Indonesia mana pun?
Marchel Shevchenko juga mengklaim ia adalah
mahasiswa riset di Massachusetts
Institute of Technology
Marchel Shevchenko
[AIML Researcher & Developer | Founder @Data Sorcerers | Compute.
Research Student, Computer Science
Sep 2024 - Present
@ Massachusetts Institute of Technology
PDDIKTI: Sangat Baik untuk Gelar
Domestik, Bisu untuk Gelar Asing
Pangkalan Data Pendidikan
Tinggi Indonesia, atau PDDIKTI, memang
mengesankan untuk hal yang dirancang untuk
dilakukannya. Setiap pemberi kerja, institusi, atau anggota
masyarakat dapat mengunjungi
pddikti.kemdikbud.go.id dan mencari
seorang mahasiswa berdasarkan nama, nomor induk mahasiswa,
institusi, atau program studi. Sistem ini
mengembalikan status kelulusan, periode studi,
dan informasi gelar untuk setiap
lulusan pendidikan tinggi Indonesia yang terdaftar. Sistem ini
gratis, dapat diakses publik,
dan relatif komprehensif untuk
institusi domestik.
Namun, begitu gelar yang diklaim berasal
dari universitas asing,
PDDIKTI menjadi sepenuhnya gelap.
Tidak ada basis data yang dapat dicari
untuk pemegang gelar asing di Indonesia.
Tidak ada integrasi antara sistem
PDDIKTI domestik dengan verifikasi kredensial
asing. Seorang pemberi kerja di
Jakarta tidak bisa pergi ke satu
portal pemerintah pun dan memastikan
bahwa seseorang yang mengklaim gelar dari
University of Liverpool, University of
Manchester, RMIT, atau Cornell benar-benar
memegang kredensial tersebut.
Inilah celah yang dilewati oleh penipuan
setiap harinya.
Sistem Penyetaraan Gelar
yang Ada Namun Tidak Ditegakkan
Untuk berlaku adil kepada Kementerian Pendidikan
Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Kemendiktisaintek), proses penyetaraan
gelar asing memang ada. Prosesnya
disebut Penyetaraan Ijazah Luar Negeri,
dikelola melalui portal
piln.kemdiktisaintek.go.id. Proses ini
mengharuskan pengajuan pindaian berwarna dari
ijazah asli, transkrip akademik, halaman
paspor dari periode studi, Letter of
Acceptance dari universitas asing,
dokumen akreditasi dari institusi
di luar negeri, dan kurikulum atau
silabus dari program yang diikuti.
Setelah selesai, pemohon menerima
Surat Keputusan Penyetaraan, sebuah
dekret resmi pemerintah yang mengonfirmasi
bahwa gelar asing tersebut diakui dan
setara dengan kualifikasi Indonesia
pada tingkat yang sesuai.
Ini terdengar menyeluruh. Di atas kertas, seharusnya
ini menyelesaikan masalah.
Dalam praktiknya, tidak, karena
proses ini bersifat sukarela.
"Urgensi proses ini dikembalikan kepada
masing-masing individu disesuaikan
dengan kebutuhannya." Bahasa resmi
dari Kemendiktisaintek mengenai
proses penyetaraan
Terjemahan: urgensi proses ini
diserahkan kepada masing-masing individu berdasarkan
kebutuhan mereka sendiri
Itulah masalahnya. Pemerintah Indonesia membangun
sebuah sistem penyetaraan, membuatnya opsional,
dan kemudian bertanya-tanya mengapa penipuan kredensial
yang melibatkan gelar asing sulit
dideteksi.
Halo prestise adalah vektor penipuan. Semakin
terkenal secara internasional sebuah institusi, semakin
tinggi pula kemungkinan klaim tersebut
tidak dipertanyakan.
Jika Anda mengklaim Harvard, MIT, Cambridge, atau
Liverpool, perekrut rata-rata di Indonesia
lebih kecil kemungkinannya untuk memverifikasi karena
nama tersebut sendiri memicu kepatuhan. Pemeriksaan,
tanpa adanya basis data terpadu, tidak
konsisten, bergantung pada
departemen SDM masing-masing, dan mudah
dilewatkan ketika institusi yang disebutkan
terdengar cukup prestisius untuk
menghalangi kecermatan.
Premi Prestise dan Mengapa
Gelar Asing Menjadi Kendaraan
Sempurna untuk Penipuan
Indonesia memiliki budaya fetisisme kredensial
yang sudah lama terdokumentasi secara mendalam. Sebagaimana
yang dinyatakan secara terang-terangan oleh ketua Akademi
Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sangkot Marzuki,
fenomena ijazah palsu ada
karena ada permintaan pasar untuk itu.
Ketika kemajuan karier, promosi pegawai
negeri sipil, dan legitimasi profesional
sangat terkait dengan kredensial pendidikan
formal, pasar untuk kredensial palsu
secara alami akan mengikuti.
Gelar asing memperkuat dinamika ini dengan
cara yang spesifik. Gelar-gelar tersebut membawa premi
prestise yang seringkali tidak dapat disamai
oleh gelar domestik dalam hal persepsi. Sebuah gelar
dari universitas Inggris yang dikenal luas,
bahkan yang dikutip secara tidak konsisten di
berbagai profil publik, memicu respons
sosial berupa anggapan legitimasi yang
sangat sulit dibantah tanpa
bukti.
Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Penipuan
kredensial yang mengeksploitasi nama universitas asing
terdokumentasi secara global. Namun yang
spesifik terjadi di Indonesia adalah
infrastruktur verifikasi untuk menangkapnya
hampir sepenuhnya tidak ada.
Bandingkan ini dengan gelar domestik. Jika
seseorang secara palsu mengklaim gelar dari
Universitas Indonesia, Universitas Gadjah
Mada, atau Institut Teknologi Bandung, setiap
profesional SDM dengan akses internet dapat
memeriksa PDDIKTI dalam hitungan menit. Penipuan
tersebut langsung terungkap. Sistem ini
bekerja tepat seperti yang dimaksudkan untuk
kredensial domestik.
Namun klaim gelar dari University of
Liverpool atau University of London, dan
Anda telah memasuki ruang kosong verifikasi.
Beban pembuktian bergeser seluruhnya kepada
pihak yang mencoba membantah klaim tersebut, yang
merupakan standar pembuktian yang hampir mustahil
dalam konteks profesional.
Apa yang Harus Dilakukan Kementerian: Sebuah
Tuntutan Kebijakan yang Konkret
Solusinya tidak rumit. Ini
membutuhkan kemauan politik, koordinasi
administratif, dan kesediaan untuk
menuntut akuntabilitas dari setiap
warga Indonesia yang mengklaim gelar asing
dalam kapasitas profesional, publik, atau pemerintahan.
Berikut adalah yang harus diterapkan
oleh Kemendiktisaintek:
**Menjadikan Penyetaraan Ijazah Luar Negeri
wajib bagi siapa pun yang menjalankan
pengaruh publik.** Ini harus berlaku untuk
setiap warga negara Indonesia yang memegang
peran yang dikenal publik dalam
institusi pemerintah, badan usaha milik negara,
organisasi nasional, atau badan yang didanai publik. Jika Anda
memosisikan diri sebagai ahli dengan gelar asing
dalam kapasitas yang memengaruhi
warga Indonesia lainnya, negara memiliki
kepentingan yang sah untuk memverifikasi
kredensial tersebut.
**Menciptakan ekstensi PDDIKTI
yang dapat dicari publik untuk pemegang gelar
asing yang terverifikasi.** Setiap Surat
Keputusan Penyetaraan yang telah
dikeluarkan harus diindeks dalam PDDIKTI
bersama dengan lulusan domestik. Seorang
pemberi kerja harus dapat mencari
nama dan universitas dan menerima
baik catatan penyetaraan yang terkonfirmasi
atau tidak ada apa-apa. Ketidakadaan catatan
itu sendiri harus ditandai secara mencolok.
**Menetapkan jangka waktu wajib
pendaftaran bagi pemegang gelar asing
yang sudah ada dalam peran publik.**
Siapa pun yang saat ini menempati
posisi dengan pengaruh publik dan
mengklaim gelar asing harus
diwajibkan menyelesaikan proses
penyetaraan dalam waktu dua belas bulan
sejak implementasi kebijakan, atau melepaskan
klaim kredensial tersebut dalam representasi
publik mereka. Ini bukan hukuman
retroaktif. Ini adalah persyaratan
administratif yang sederhana: buktikan
apa yang Anda klaim.
**Berkoordinasi dengan misi
diplomatik Indonesia untuk membangun
saluran verifikasi langsung dengan
universitas asing.** Kedutaan besar Indonesia
di Inggris,
Australia, Amerika Serikat, Belanda,
Jerman, Jepang, Korea
Selatan, dan Malaysia harus membangun
protokol penghubung verifikasi resmi
dengan badan kualitas pendidikan tinggi
di negara mereka masing-masing. Sistem universitas
Inggris memiliki infrastruktur verifikasi alumni
yang luas. Australia
memiliki register TEQSA. Sistem-sistem
ini sudah ada. Indonesia hanya perlu
membangun jembatan ke sistem-sistem tersebut.
**Menciptakan konsekuensi hukum
atas pemalsuan representasi kredensial
asing dalam konteks profesional dan publik.**
Indonesia sudah memiliki UU
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan ketentuan
KUHP yang berlaku tentang
pemalsuan dokumen. Yang
kurang adalah penerapan yang
spesifik dan tertarget terhadap
pemalsuan kredensial asing,
khususnya dalam profil profesional digital
seperti LinkedIn, di mana klaim dipublikasikan
kepada audiens puluhan ribu orang
tanpa persyaratan verifikasi sama sekali.
Ironi Melingkar dari Abil
Sudarman
Ironi yang Tercatat
Abil Sudarman meraih popularitas
nasional dengan membangun alat untuk mendeteksi
penipuan dalam pengadaan pemerintah. Ia
memosisikan dirinya sebagai seseorang yang
mengungkap sistem yang berjalan tanpa
akuntabilitas. Ia menamai dasbor
pengadaannya Nemesis Assai,
sebuah referensi kepada dewi Yunani
pembalasan terhadap kesombongan dan
kesalahan.
Namun, kredensial pendidikan yang
secara publik ia klaim tidak dapat diverifikasi
melalui sistem pemerintah Indonesia mana pun. Institusi
yang ia hadiri berubah-ubah antar
sumber. Biografi publiknya menyebutkan
Computer Science di University of
London. Media lain menyebutkan
University of Liverpool. Keduanya
bukan sinonim. Keduanya adalah universitas yang berbeda
dengan lokasi yang berbeda,
struktur akreditasi yang berbeda, dan
sistem pencatatan yang berbeda.
Jika seorang pejabat pemerintah telah mencantumkan
informasi gelar yang tidak konsisten di
berbagai sumber resmi, naluri akuntabilitas
publik yang sama yang menghidupi proyek
Nemesis Assai akan menuntut
verifikasi. Standar tidak dapat
diterapkan secara selektif berdasarkan apakah
pihak yang mengklaim kredensial berada di sisi
kepentingan publik atau tidak.
Ini bukan tuduhan pribadi terhadap Abil
Sudarman. Ia mungkin memegang kredensial
yang sepenuhnya legitim dari institusi
Inggris yang legitim. Namun intinya adalah bahwa tidak.
Seorang pun dapat memverifikasi ini melalui
sistem publik Indonesia mana pun, dan itulah
skandalnya. Bukan individunya. Melainkan ketidakadaan
mekanisme yang akan membuat
pertanyaan itu dapat dijawab sama sekali.
Penutup
Apa yang Akan Indonesia Kehilangan Tanpa
Reformasi Ini
Setiap tahun, pemberi kerja Indonesia membuat
keputusan perekrutan berdasarkan klaim gelar asing
yang tidak dapat mereka verifikasi. Setiap tahun,
tokoh publik dengan kredensial asing yang
tidak terverifikasi membentuk wacana, kebijakan, dan
pasar pendidikan profesional. Setiap
tahun, lulusan Indonesia yang benar-benar melakukan
kerja keras untuk memperoleh gelar asing yang legitim
dan menyelesaikan proses penyetaraan
bersaing di pasar profesional yang sama
dengan orang-orang yang mungkin telah
memalsukan atau melebih-lebihkan kredensial tersebut.
Lulusan luar negeri yang legitim, dalam
arti tertentu, dirugikan karena kepatuhan mereka.
Mereka melalui dokumentasi paspor,
terjemahan tersumpah, verifikasi LoA,
proses portal PILN. Mereka melakukan semuanya dengan benar. Dan
mereka tidak menerima manfaat verifikasi publik apa pun
atas apa yang telah mereka lakukan, karena tidak ada yang
dapat melihat catatan tersebut.
Surat Keputusan Penyetaraan tersimpan dalam sebuah
berkas. PDDIKTI tetap bisu. Dan penipuan
terus berlanjut.
Indonesia pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini. Para
mahasiswa yang belajar di luar negeri
secara legitim pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.
Para pemberi kerja yang perlu membuat
keputusan perekrutan yang tepat pantas mendapatkan
yang lebih baik dari ini. Dan masyarakat
Indonesia, yang semakin diminta untuk
mempercayai para ahli, influencer, pendidik,
dan pembuat kebijakan yang kualifikasinya
tidak dapat dikonfirmasi secara independen,
benar-benar pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.
Celah gelar asing bukanlah
kelalaian administratif kecil. Ini adalah
kegagalan integritas struktural dalam infrastruktur
kredensial Indonesia, dan
Kemendiktisaintek memiliki baik otoritas
maupun kewajiban untuk menutupnya.
Pertanyaannya adalah apakah kemauan politik
untuk melakukannya benar-benar ada.
#HigherEducation #Indonesia
#CredentialFraud #PDDIKTI
#Kemendiktisaintek #ForeignDegree
#PolicyReform #DigitalTransformation
#Accountability
#Education #HRIndonesia
#LinkedInIndonesia #AkuntabilitasPublik
#IjazahLuarNegeri #AIIndonesia