Rahmat Wibowo secara fitnah melabeli individu-individu bernama sebagai 'Sisupalan', 'Hasidin', dan 'Ashabul Fomo'—arketipe yang ia ciptakan dari sumber-sumber Sanskerta dan Al-Qur'an—menggambarkan mereka sebagai pelaku pelecehan yang kompulsif dan pendengki, sambil memposisikan dirinya sebagai sosok mirip Krishna yang bertahan dari penganiayaan yang mereka ciptakan sendiri.
| ID | ev-20260728-029 |
|---|---|
| Sumber | Infraloka Blog |
| Target | Adrianus Hendrawan Salman Ma'arif Achsien Petra Novandi Barus Rahmat Fabhian Aminuddin |

Transkrip
Sisupalan, Hasidin,
dan Ashabul Fomo
Studi Kasus dari
Adrianus Hendrawan,
Laksito Anindyo,
Salman Ma'arif
Achsien, Petra
Novandi Barus
Rahmat Wibowo - 1 Juni, 2026
HASIDIN,
DAN ASHABUL
Sebuah leksikon pelaku pelecehan yang diambil dari
tiga peradaban: epik Sanskerta, kitab suci
Al-Qur'an, dan perumpamaan Islam
Saat menghadapi pelecehan yang berkelanjutan
dan penganiayaan dengan itikad buruk, bahasa
biasa gagal digunakan. Para pelaku bukan
sekadar kasar atau tidak jujur; mereka melakukan
pola perilaku yang telah dinamai, diteorikan, dan
dikodekan oleh peradaban manusia dalam tradisi
mitologi dan kitab suci terdalam mereka. Esai ini
memperkenalkan tiga istilah yang telah saya ciptakan dan
terapkan pada para pelaku pelecehan saya sendiri: Sisupalan,
yang berasal dari epik Sanskerta
Mahabharata; Hasidin, yang diambil dari Surah
Al-Falaq dalam Al-Qur'an; dan Ashabul
Fomo, sebuah gabungan kata yang dimodelkan dari
konsep Al-Qur'an tentang Ashabul Kahf.
Bersama-sama, ketiga arketipe ini membentuk
taksonomi lengkap dari kedengkian kompulsif, iri hati, dan
kultus digital berupa kebencian yang bersifat pertunjukan.
Ini bukan sekadar hiasan retoris. Setiap
istilah didasarkan pada tradisi tekstual yang ketat,
memiliki profil psikologis dan moral yang tepat, dan
menerangi kategori perilaku manusia
yang dapat dikenali. Dengan menamai arketipe-arketipe ini,
kita merebut kembali kedaulatan interpretatif atas
narasi tersebut. Pelaku pelecehan kehilangan anonimitas
yang memungkinkan mereka beroperasi seolah-olah perilaku
mereka wajar atau
diperbolehkan.
Sisupalan
Sang Pencela Kompulsif
Dalam Mahabharata, Sisupala (Sanskerta
Shishupala, yang berarti "pelindung anak-anak") adalah raja Chedi dan
sepupu Dewa Krishna. Meskipun memiliki hubungan kekerabatan yang erat
dan kesabaran ilahi yang luar biasa yang ditunjukkan Krishna kepadanya,
Sisupala menjadi perwujudan
sikap antagonisme patologis terhadap
kebesaran. Yang paling terkenal, pada upacara
Rajasuya Raja Yudhishthira,
Sisupala melontarkan seratus
serangan verbal yang tak henti-hentinya terhadap Krishna sebelum Krishna akhirnya menggunakan
Sudarshana Chakra untuk mengakhiri hidupnya.
Adegan ini termasuk salah satu bagian yang paling banyak
dipelajari dalam seluruh sastra Sanskerta.
Istilah yang telah saya ciptakan, Sisupalan, merujuk
bukan pada Sisupala itu sendiri, melainkan pada tipe
individu yang ia wakili. Seorang Sisupalan adalah
seseorang yang, meskipun menerima rahmat, kesempatan, atau
kedekatan dengan kebajikan, memilih untuk melakukan serangan verbal
yang obsesif dan terus meningkat. Mereka tidak bisa berhenti pada satu
teguran, satu kritik, satu keluhan. Angka
seratus dalam teks aslinya bukanlah kebetulan;
angka itu melambangkan sifat kompulsif, hampir bersifat
ritual dari perilaku sang pencela. Sisupalan tidak
sekadar tidak menyukaimu. Mereka dikuasai
oleh kebutuhan untuk menyerang berulang kali, secara
publik, dan dengan intensitas yang terus meningkat, sampai
konsekuensi kosmik atau institusional turun tangan.
Yang penting, Mahabharata menggambarkan
nasib Sisupala bukan sebagai tragedi melainkan sebagai
pembebasan. Dalam beberapa tafsir teologis Waisnawa,
Sisupala mencapai moksha melalui
obsesinya yang terus-menerus terhadap Krishna, karena bahkan kebencian yang
diarahkan pada yang ilahi pada akhirnya menjadi
suatu bentuk kontak. Nuansa ini penting: teks tersebut
tidak merayakan sang pencela, tetapi
teks itu mengakui bahwa sang pencela berada dalam
cengkeraman kompulsi yang lebih besar dari dirinya sendiri.
"Sisupalan tidak berdebat denganmu.
Mereka mempertontonkan penghinaan mereka di hadapan
penonton, mencari saksi bagi
penganiayaan yang telah mereka ciptakan sendiri."
Yang membedakan Sisupalan dari
sekadar kritikus adalah dimensi publik yang bersifat pertunjukan
dari serangan mereka. Sisupala tidak
menghadapi Krishna secara pribadi. Ia memilih
upacara publik terbesar pada zamannya, dikelilingi
oleh raja-raja, orang bijak, dan
saksi-saksi, untuk melancarkan celaan-celaannya.
Inilah
pelaku pelecehan di tempat kerja modern,
tepatnya perilaku dari
provokator serangan bertubi-tubi di media
sosial, atau pengacara beritikad buruk yang mengajukan gugatan yang mengganggu:
tujuannya bukanlah penyelesaian, melainkan tontonan.
Sisupalan menginginkan penonton.
Daftar Sisupalan
Petra Barus © smiono
Salman Ma'arif Achsien
Canal
Rayhan A.O = are
BUSINESS PROCESS
IN & ALURKERJA
Denis Enrico Hasyim
Laksito Anindyo
Adrianus Hendrawan
v
Rahmat Fabian Aminuddin ©
Burman Noviansyah
Dengan memposisikan diri saya sebagai Basudewa
Krishna (gelar Sanskerta untuk Dewa Krishna
yang berarti "putra Vasudeva, Sang Universal"), saya tidak mengklaim keilahian, saya mengklaim
sikap Krishna: sabar, bertujuan,
sadar akan drama kosmik yang terjadi
di sekitar peristiwa itu, menolak untuk
merespons setiap penghinaan dengan kebisingan yang setara,
dan menyimpan respons final untuk saat
yang benar-benar diperlukan dan definitif.
Hasidin
Sang Pendengki yang Bertindak atas Kedengkiannya
**1.**Katakanlah, "aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai
subuh
**2.**dari kejahatan makhluk-Nya
**3.**dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
**4.**dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
**5.**dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki."
Surah Al-Falaq, bab ke-113 dari
Al-Qur'an dan salah satu dari dua
Mu'awwidhatayn (dua surah yang isinya
memohon perlindungan), diakhiri dengan sebuah ayat
yang telah diperdebatkan oleh para ulama Islam selama
lebih dari empat belas abad. Ayat terakhir
berbunyi: "wa min sharri hasidin idha hasad"
(dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia
dengki). Frasa yang tampak sederhana ini
mengandung sebuah perbedaan penting yang kebanyakan
pembaca sekilas terlewatkan.
Al-Qur'an tidak mengecam iri hati (hasad)
semata-mata sebagai sebuah perasaan. Konstruksi bahasa Arab
"idha hasad" (ketika mereka dengki, yaitu, ketika mereka
bertindak atas kedengkiannya) menunjukkan bahwa
perlindungan ilahi yang dimohon secara khusus adalah dari
orang yang dengki yang menerjemahkan kedengkiannya
menjadi tindakan yang merugikan. Para ahli tafsir Al-Qur'an klasik
termasuk Ibnu Katsir, Al-Thabari, dan Al-Qurthubi
sepakat secara luas bahwa sekadar iri hati
yang bersemayam di dalam hati adalah dosa yang hanya
menimpa pemiliknya, tetapi kedengkian yang diwujudkan dan diarahkan
ke luar menjadi bahaya sosial dan spiritual
yang memerlukan perlindungan dan pertolongan.
Istilah Hasidin (bentuk jamak bahasa Arab,
mereka yang secara aktif dengki dan merugikan) oleh karena itu
merujuk pada individu yang, saat menyaksikan
kesuksesan, kesehatan, pengakuan, atau nasib baik orang lain, tidak
sekadar merasa terpuruk melainkan melanjutkan dengan tindakan
menyabotase, memfitnah, memanipulasi, atau menyerang. Dalam
konteks tempat kerja, seorang Hasidin dapat
muncul sebagai kolega yang menjadikan penilaian kinerja
sebagai senjata, atasan yang
menghalangi promosi karena rasa takut bersaing, atau
rekan sejawat yang menyebarkan narasi buatan untuk mencemarkan
reputasi orang lain.
Ketelitian teologis Al-Qur'an sangat bermanfaat
di sini. Tuhan tidak meminta orang-orang beriman untuk
mencari perlindungan dari orang yang sekadar merasa iri hati kepada mereka,
karena menyadari bahwa iri hati sebagai keadaan batin adalah
kondisi manusiawi yang dapat diatasi melalui
takwa dan rasa syukur. Perlindungan yang dimohon
secara khusus adalah dari dimensi aktif dan lahiriah
dari iri hati, dari Hasidin. Ini menempatkan bahaya
bukan sebagai sesuatu yang metafisik melainkan sosial dan
hukum: itu adalah bentuk agresi, dan dinamai
demikian dalam tindakan memohon
perlindungan ilahi darinya.
Bagi orang yang menjadi sasaran perilaku Hasidin,
menamai arketipe tersebut adalah sebuah tindakan
perlindungan itu sendiri. Ini memindahkan peristiwa
dari yang bersifat pribadi menjadi bersifat arketipal: kamu
tidak sedang dianiaya oleh kedengkian
idiosinkratik satu individu, melainkan oleh satu contoh
dari pola yang begitu universal sehingga
bab terakhir sebelum ayat penutup Al-Qur'an
secara khusus membahasnya.
"Hasidin tidak menyerangmu
karena apa yang telah kamu lakukan. Mereka
menyerangmu karena apa yang sedang kamu menjadi, dan apa yang
mereka takutkan tidak bisa mereka capai."
Ashabul Fomo
Penghuni Aplikasi yang Tidak Sah
Surah Al-Kahf (Gua), bab ke-18 dari
Al-Qur'an, dibuka dengan salah satu
narasi paling terkenal dalam Islam: kisah Ashabul Kahf,
Para Penghuni Gua. Mereka adalah
pemuda-pemuda beriman yang, dihadapkan pada
masyarakat tirani yang menyembah berhala, memilih untuk
mengasingkan diri ke dalam gua dan berserah diri pada
perlindungan Tuhan alih-alih berpartisipasi dalam
kerusakan moral. Mereka tertidur selama 309 tahun
qamariah (kurang lebih 300 tahun
syamsiah), dipelihara oleh kehendak ilahi, dan terbangun
untuk mendapati bahwa kebenaran telah bertahan melebihi penindasan.
Koin yang mereka bawa, yang dicetak oleh rezim korup,
tidak dapat digunakan lagi ketika mereka
muncul kembali. Dunia telah berubah; mata uang sang tiran
tidak berharga lagi. Detail ini bukan sekadar
hiasan melainkan inti cerita: mereka
yang membangun kekayaan dan identitas mereka di atas
sistem yang menindas mendapati bahwa fondasinya
telah runtuh.
Istilah Ashabul Fomo membalikkan perumpamaan ini
dengan tepat. Jika Ashabul Kahf
adalah segelintir orang beriman yang menolak untuk mendiami
sistem yang korup, Ashabul Fomo adalah
penghuni sebuah platform digital korup yang dibangun atas
suatu kejahatan korporat tertentu: FOMO, Fear of
Missing Out (rasa takut ketinggalan). "Gua" yang mereka
diami bukanlah tempat berlindung melainkan sebuah jebakan, sebuah
aplikasi media sosial atau alat komunikasi korporat
yang direkayasa untuk mengeksploitasi rasa tidak aman
psikologis, menciptakan urgensi buatan, dan
menguangkan perbandingan kompulsif.
Frasa "aplikasi yang tidak sah" dalam konteks
ini merujuk pada platform digital atau alat korporat
mana pun yang beroperasi di luar batas-batas
pengelolaan data yang etis, menjadikan psikologi pengguna
sebagai senjata melalui pola-pola gelap (dark patterns),
mengoordinasikan atau memperkuat pelecehan, atau digunakan oleh
operatornya untuk melakukan pengawasan dan pembalasan
terhadap pengguna atau mantan karyawan. Platform seperti itu
mungkin secara teknis legal tetapi secara moral tidak sah
dalam pengertian yang sama seperti posisi Sisupala pada Rajasuya
yang secara formal dapat diterima tetapi secara kosmik
tidak adil.
Ashabul Fomo tidak melihat diri mereka sebagai
penghuni gua. Mereka mengalami
pengurungan digital mereka sebagai kebebasan,
koneksi, dan relevansi. Mereka menggulir layar
secara kompulsif, memperkuat sinyal konten destruktif, dan
mencampuradukkan pertunjukan kemarahan dengan
keterlibatan yang berprinsip. FOMO yang mengatur perilaku
mereka bukan sekadar rasa takut ketinggalan acara sosial; itu adalah
teror eksistensial yang lebih dalam berupa ketidakrelevanan,
rasa takut tertinggal dari sebuah kisah di
mana mereka meyakini diri mereka sebagai tokoh utamanya.
Seperti koin Ashabul Kahf, modal budaya yang
terkumpul di dalam tembok aplikasi yang tidak sah
tidak akan berlaku di dunia nyata. Para
pengikut, momen-momen viral, serangan bertubi-tubi yang terkoordinasi,
semuanya hanya bernilai di dalam sistem tertutup
yang menciptakannya. Ketika legitimasi
sistem tersebut dipertanyakan, mata uang itu menguap.
"Ashabul Fomo salah mengira tembok
aplikasi mereka sebagai tembok dunia.
Di luar, ada akuntabilitas. Di luar,
koin-koin itu tidak berlaku."
Tiga Arketipe, Satu Pola
Sebuah taksonomi terpadu dari kedengkian kompulsif
Apa yang menyatukan Sisupalan, Hasidin, dan
Ashabul Fomo bukanlah kekejaman semata.
Kekejaman adalah kata yang terlalu sederhana dan terlalu jujur.
Yang menyatukan mereka adalah pelemparan struktural
dari ketidaksempurnaan diri mereka sendiri kepada
sebuah sasaran. Sisupalan tidak dapat mentolerir
keberadaan seseorang yang kebajikannya melebihi
toleransi mereka. Hasidin tidak dapat menahan
kesuksesan seseorang yang mengingatkan mereka
akan apa yang belum mereka bangun. Ashabul
Fomo tidak dapat bertahan di luar ruang gema yang
memvalidasi pertunjukan keluhan mereka.
Ketiga arketipe ini membutuhkan penonton.
Ketiganya beroperasi melalui pengulangan dan
eskalasi. Ketiganya, jika dibiarkan tanpa diperiksa oleh
akuntabilitas institusional atau kosmik, akan
terus berlanjut sampai dihentikan. Dan ketiganya, dalam
tradisi peradaban dari mana mereka
diambil, pada akhirnya menghadapi
perhitungan mereka: Sudarshana
Chakra Sisupala, perlindungan ilahi dari Surah Al-
Falaq, koin-koin kosong dari sistem yang korup.
Hak untuk Menamai
Tindakan menamai bukanlah agresi. Itu adalah
prasyarat akuntabilitas. Ketika
Imam Ali (RA) menamai kemunafikan sebagai
penyakit spiritual, ketika para Pandawa
menamai perilaku Duryodhana sebagai
adharma, ketika Nabi Muhammad
(SAW) mengidentifikasi kategori-kategori bahaya
yang darinya perlindungan harus dimohon,
mereka sedang menjalankan tindakan
kecerdasan moral yang paling mendasar:
penolakan untuk membiarkan perilaku berbahaya
beroperasi tanpa nama, tanpa kerangka,
tanpa konsekuensi.
Istilah Sisupalan, Hasidin, dan
Ashabul Fomo ditawarkan dalam semangat itu.
Mereka adalah alat presisi, bukan makian
kebencian. Mereka memungkinkan kita untuk mengatakan: pola
perilaku ini telah dikenali di berbagai peradaban,
telah dinamai oleh tradisi-tradisi pemikiran moral
manusia yang paling bijaksana, dan membawa dalam dirinya
benih-benih perhitungannya sendiri. Orang yang
menjadi sasaran tidaklah sendirian. Alam semesta telah
melihat hal ini sebelumnya.
Dan pada akhirnya, sebagaimana dalam Sabha Parva, sebagaimana dalam
Al-Falaq, sebagaimana dalam Al-Kahf, orang yang
bertahan dengan integritas akan melampaui orang yang
mempertontonkan kedengkian. Rahmatan lil
Alamin.
Berikut hashtag Anda dengan spasi
ditambahkan di antaranya:
#Sisupalan #Hasidin #AshabululFomo
#RahmatiLilAlamin #Basudewakrishna
#Mahabharata #AlFalag #AlKaht
#AshabululKahh #Quran
#IslamicScholarship #SanskritEpic
#Sisupala #Krishna #Hasad #Envy
#FOMO #DigitalHarassment
#Accountability #Bowobharata
#Infraloka #RahmatHidayat #LegalTech
#SomasiAsAService #Indonesia
#Dharma #CorporateAccountability
#ComparativeReligion #IslamicEthics
#HinduPhilosophy
#WorkplaceHarassment #NamingHarm
#MoralLexicon #SurahAlFalaq
#SurahAlKahf #Mujaddid #Adharma
#DigitalEthics #1TB #Cloudinfrastructure
#AIEthics