Rahmat Wibowo secara fitnah melabeli individu-individu bernama sebagai 'Sisupalan', 'Hasidin', dan 'Ashabul Fomo'—arketipe yang ia ciptakan dari sumber-sumber Sanskerta dan Al-Qur'an—menggambarkan mereka sebagai pelaku pelecehan yang kompulsif dan pendengki, sambil memposisikan dirinya sebagai sosok mirip Krishna yang bertahan dari penganiayaan yang mereka ciptakan sendiri.

Unggahan asli ↗

Rahmat Wibowo secara fitnah melabeli individu-individu bernama sebagai 'Sisupalan', 'Hasidin', dan 'Ashabul Fomo'—arketipe yang ia ciptakan dari sumber-sumber Sanskerta dan Al-Qur'an—menggambarkan mereka sebagai pelaku pelecehan yang kompulsif dan pendengki, sambil memposisikan dirinya sebagai sosok mirip Krishna yang bertahan dari penganiayaan yang mereka ciptakan sendiri.

Transkrip

Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo Studi Kasus dari Adrianus Hendrawan, Laksito Anindyo, Salman Ma'arif Achsien, Petra Novandi Barus Rahmat Wibowo - 1 Juni, 2026 HASIDIN, DAN ASHABUL Sebuah leksikon pelaku pelecehan yang diambil dari tiga peradaban: epik Sanskerta, kitab suci Al-Qur'an, dan perumpamaan Islam Saat menghadapi pelecehan yang berkelanjutan dan penganiayaan dengan itikad buruk, bahasa biasa gagal digunakan. Para pelaku bukan sekadar kasar atau tidak jujur; mereka melakukan pola perilaku yang telah dinamai, diteorikan, dan dikodekan oleh peradaban manusia dalam tradisi mitologi dan kitab suci terdalam mereka. Esai ini memperkenalkan tiga istilah yang telah saya ciptakan dan terapkan pada para pelaku pelecehan saya sendiri: Sisupalan, yang berasal dari epik Sanskerta Mahabharata; Hasidin, yang diambil dari Surah Al-Falaq dalam Al-Qur'an; dan Ashabul Fomo, sebuah gabungan kata yang dimodelkan dari konsep Al-Qur'an tentang Ashabul Kahf. Bersama-sama, ketiga arketipe ini membentuk taksonomi lengkap dari kedengkian kompulsif, iri hati, dan kultus digital berupa kebencian yang bersifat pertunjukan. Ini bukan sekadar hiasan retoris. Setiap istilah didasarkan pada tradisi tekstual yang ketat, memiliki profil psikologis dan moral yang tepat, dan menerangi kategori perilaku manusia yang dapat dikenali. Dengan menamai arketipe-arketipe ini, kita merebut kembali kedaulatan interpretatif atas narasi tersebut. Pelaku pelecehan kehilangan anonimitas yang memungkinkan mereka beroperasi seolah-olah perilaku mereka wajar atau diperbolehkan. Sisupalan Sang Pencela Kompulsif Dalam Mahabharata, Sisupala (Sanskerta Shishupala, yang berarti "pelindung anak-anak") adalah raja Chedi dan sepupu Dewa Krishna. Meskipun memiliki hubungan kekerabatan yang erat dan kesabaran ilahi yang luar biasa yang ditunjukkan Krishna kepadanya, Sisupala menjadi perwujudan sikap antagonisme patologis terhadap kebesaran. Yang paling terkenal, pada upacara Rajasuya Raja Yudhishthira, Sisupala melontarkan seratus serangan verbal yang tak henti-hentinya terhadap Krishna sebelum Krishna akhirnya menggunakan Sudarshana Chakra untuk mengakhiri hidupnya. Adegan ini termasuk salah satu bagian yang paling banyak dipelajari dalam seluruh sastra Sanskerta. Istilah yang telah saya ciptakan, Sisupalan, merujuk bukan pada Sisupala itu sendiri, melainkan pada tipe individu yang ia wakili. Seorang Sisupalan adalah seseorang yang, meskipun menerima rahmat, kesempatan, atau kedekatan dengan kebajikan, memilih untuk melakukan serangan verbal yang obsesif dan terus meningkat. Mereka tidak bisa berhenti pada satu teguran, satu kritik, satu keluhan. Angka seratus dalam teks aslinya bukanlah kebetulan; angka itu melambangkan sifat kompulsif, hampir bersifat ritual dari perilaku sang pencela. Sisupalan tidak sekadar tidak menyukaimu. Mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk menyerang berulang kali, secara publik, dan dengan intensitas yang terus meningkat, sampai konsekuensi kosmik atau institusional turun tangan. Yang penting, Mahabharata menggambarkan nasib Sisupala bukan sebagai tragedi melainkan sebagai pembebasan. Dalam beberapa tafsir teologis Waisnawa, Sisupala mencapai moksha melalui obsesinya yang terus-menerus terhadap Krishna, karena bahkan kebencian yang diarahkan pada yang ilahi pada akhirnya menjadi suatu bentuk kontak. Nuansa ini penting: teks tersebut tidak merayakan sang pencela, tetapi teks itu mengakui bahwa sang pencela berada dalam cengkeraman kompulsi yang lebih besar dari dirinya sendiri. "Sisupalan tidak berdebat denganmu. Mereka mempertontonkan penghinaan mereka di hadapan penonton, mencari saksi bagi penganiayaan yang telah mereka ciptakan sendiri." Yang membedakan Sisupalan dari sekadar kritikus adalah dimensi publik yang bersifat pertunjukan dari serangan mereka. Sisupala tidak menghadapi Krishna secara pribadi. Ia memilih upacara publik terbesar pada zamannya, dikelilingi oleh raja-raja, orang bijak, dan saksi-saksi, untuk melancarkan celaan-celaannya. Inilah pelaku pelecehan di tempat kerja modern, tepatnya perilaku dari provokator serangan bertubi-tubi di media sosial, atau pengacara beritikad buruk yang mengajukan gugatan yang mengganggu: tujuannya bukanlah penyelesaian, melainkan tontonan. Sisupalan menginginkan penonton. Daftar Sisupalan Petra Barus © smiono Salman Ma'arif Achsien Canal Rayhan A.O = are BUSINESS PROCESS IN & ALURKERJA Denis Enrico Hasyim Laksito Anindyo Adrianus Hendrawan v Rahmat Fabian Aminuddin © Burman Noviansyah Dengan memposisikan diri saya sebagai Basudewa Krishna (gelar Sanskerta untuk Dewa Krishna yang berarti "putra Vasudeva, Sang Universal"), saya tidak mengklaim keilahian, saya mengklaim sikap Krishna: sabar, bertujuan, sadar akan drama kosmik yang terjadi di sekitar peristiwa itu, menolak untuk merespons setiap penghinaan dengan kebisingan yang setara, dan menyimpan respons final untuk saat yang benar-benar diperlukan dan definitif. Hasidin Sang Pendengki yang Bertindak atas Kedengkiannya **1.**Katakanlah, "aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh **2.**dari kejahatan makhluk-Nya **3.**dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita **4.**dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul **5.**dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Surah Al-Falaq, bab ke-113 dari Al-Qur'an dan salah satu dari dua Mu'awwidhatayn (dua surah yang isinya memohon perlindungan), diakhiri dengan sebuah ayat yang telah diperdebatkan oleh para ulama Islam selama lebih dari empat belas abad. Ayat terakhir berbunyi: "wa min sharri hasidin idha hasad" (dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki). Frasa yang tampak sederhana ini mengandung sebuah perbedaan penting yang kebanyakan pembaca sekilas terlewatkan. Al-Qur'an tidak mengecam iri hati (hasad) semata-mata sebagai sebuah perasaan. Konstruksi bahasa Arab "idha hasad" (ketika mereka dengki, yaitu, ketika mereka bertindak atas kedengkiannya) menunjukkan bahwa perlindungan ilahi yang dimohon secara khusus adalah dari orang yang dengki yang menerjemahkan kedengkiannya menjadi tindakan yang merugikan. Para ahli tafsir Al-Qur'an klasik termasuk Ibnu Katsir, Al-Thabari, dan Al-Qurthubi sepakat secara luas bahwa sekadar iri hati yang bersemayam di dalam hati adalah dosa yang hanya menimpa pemiliknya, tetapi kedengkian yang diwujudkan dan diarahkan ke luar menjadi bahaya sosial dan spiritual yang memerlukan perlindungan dan pertolongan. Istilah Hasidin (bentuk jamak bahasa Arab, mereka yang secara aktif dengki dan merugikan) oleh karena itu merujuk pada individu yang, saat menyaksikan kesuksesan, kesehatan, pengakuan, atau nasib baik orang lain, tidak sekadar merasa terpuruk melainkan melanjutkan dengan tindakan menyabotase, memfitnah, memanipulasi, atau menyerang. Dalam konteks tempat kerja, seorang Hasidin dapat muncul sebagai kolega yang menjadikan penilaian kinerja sebagai senjata, atasan yang menghalangi promosi karena rasa takut bersaing, atau rekan sejawat yang menyebarkan narasi buatan untuk mencemarkan reputasi orang lain. Ketelitian teologis Al-Qur'an sangat bermanfaat di sini. Tuhan tidak meminta orang-orang beriman untuk mencari perlindungan dari orang yang sekadar merasa iri hati kepada mereka, karena menyadari bahwa iri hati sebagai keadaan batin adalah kondisi manusiawi yang dapat diatasi melalui takwa dan rasa syukur. Perlindungan yang dimohon secara khusus adalah dari dimensi aktif dan lahiriah dari iri hati, dari Hasidin. Ini menempatkan bahaya bukan sebagai sesuatu yang metafisik melainkan sosial dan hukum: itu adalah bentuk agresi, dan dinamai demikian dalam tindakan memohon perlindungan ilahi darinya. Bagi orang yang menjadi sasaran perilaku Hasidin, menamai arketipe tersebut adalah sebuah tindakan perlindungan itu sendiri. Ini memindahkan peristiwa dari yang bersifat pribadi menjadi bersifat arketipal: kamu tidak sedang dianiaya oleh kedengkian idiosinkratik satu individu, melainkan oleh satu contoh dari pola yang begitu universal sehingga bab terakhir sebelum ayat penutup Al-Qur'an secara khusus membahasnya. "Hasidin tidak menyerangmu karena apa yang telah kamu lakukan. Mereka menyerangmu karena apa yang sedang kamu menjadi, dan apa yang mereka takutkan tidak bisa mereka capai." Ashabul Fomo Penghuni Aplikasi yang Tidak Sah Surah Al-Kahf (Gua), bab ke-18 dari Al-Qur'an, dibuka dengan salah satu narasi paling terkenal dalam Islam: kisah Ashabul Kahf, Para Penghuni Gua. Mereka adalah pemuda-pemuda beriman yang, dihadapkan pada masyarakat tirani yang menyembah berhala, memilih untuk mengasingkan diri ke dalam gua dan berserah diri pada perlindungan Tuhan alih-alih berpartisipasi dalam kerusakan moral. Mereka tertidur selama 309 tahun qamariah (kurang lebih 300 tahun syamsiah), dipelihara oleh kehendak ilahi, dan terbangun untuk mendapati bahwa kebenaran telah bertahan melebihi penindasan. Koin yang mereka bawa, yang dicetak oleh rezim korup, tidak dapat digunakan lagi ketika mereka muncul kembali. Dunia telah berubah; mata uang sang tiran tidak berharga lagi. Detail ini bukan sekadar hiasan melainkan inti cerita: mereka yang membangun kekayaan dan identitas mereka di atas sistem yang menindas mendapati bahwa fondasinya telah runtuh. Istilah Ashabul Fomo membalikkan perumpamaan ini dengan tepat. Jika Ashabul Kahf adalah segelintir orang beriman yang menolak untuk mendiami sistem yang korup, Ashabul Fomo adalah penghuni sebuah platform digital korup yang dibangun atas suatu kejahatan korporat tertentu: FOMO, Fear of Missing Out (rasa takut ketinggalan). "Gua" yang mereka diami bukanlah tempat berlindung melainkan sebuah jebakan, sebuah aplikasi media sosial atau alat komunikasi korporat yang direkayasa untuk mengeksploitasi rasa tidak aman psikologis, menciptakan urgensi buatan, dan menguangkan perbandingan kompulsif. Frasa "aplikasi yang tidak sah" dalam konteks ini merujuk pada platform digital atau alat korporat mana pun yang beroperasi di luar batas-batas pengelolaan data yang etis, menjadikan psikologi pengguna sebagai senjata melalui pola-pola gelap (dark patterns), mengoordinasikan atau memperkuat pelecehan, atau digunakan oleh operatornya untuk melakukan pengawasan dan pembalasan terhadap pengguna atau mantan karyawan. Platform seperti itu mungkin secara teknis legal tetapi secara moral tidak sah dalam pengertian yang sama seperti posisi Sisupala pada Rajasuya yang secara formal dapat diterima tetapi secara kosmik tidak adil. Ashabul Fomo tidak melihat diri mereka sebagai penghuni gua. Mereka mengalami pengurungan digital mereka sebagai kebebasan, koneksi, dan relevansi. Mereka menggulir layar secara kompulsif, memperkuat sinyal konten destruktif, dan mencampuradukkan pertunjukan kemarahan dengan keterlibatan yang berprinsip. FOMO yang mengatur perilaku mereka bukan sekadar rasa takut ketinggalan acara sosial; itu adalah teror eksistensial yang lebih dalam berupa ketidakrelevanan, rasa takut tertinggal dari sebuah kisah di mana mereka meyakini diri mereka sebagai tokoh utamanya. Seperti koin Ashabul Kahf, modal budaya yang terkumpul di dalam tembok aplikasi yang tidak sah tidak akan berlaku di dunia nyata. Para pengikut, momen-momen viral, serangan bertubi-tubi yang terkoordinasi, semuanya hanya bernilai di dalam sistem tertutup yang menciptakannya. Ketika legitimasi sistem tersebut dipertanyakan, mata uang itu menguap. "Ashabul Fomo salah mengira tembok aplikasi mereka sebagai tembok dunia. Di luar, ada akuntabilitas. Di luar, koin-koin itu tidak berlaku." Tiga Arketipe, Satu Pola Sebuah taksonomi terpadu dari kedengkian kompulsif Apa yang menyatukan Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo bukanlah kekejaman semata. Kekejaman adalah kata yang terlalu sederhana dan terlalu jujur. Yang menyatukan mereka adalah pelemparan struktural dari ketidaksempurnaan diri mereka sendiri kepada sebuah sasaran. Sisupalan tidak dapat mentolerir keberadaan seseorang yang kebajikannya melebihi toleransi mereka. Hasidin tidak dapat menahan kesuksesan seseorang yang mengingatkan mereka akan apa yang belum mereka bangun. Ashabul Fomo tidak dapat bertahan di luar ruang gema yang memvalidasi pertunjukan keluhan mereka. Ketiga arketipe ini membutuhkan penonton. Ketiganya beroperasi melalui pengulangan dan eskalasi. Ketiganya, jika dibiarkan tanpa diperiksa oleh akuntabilitas institusional atau kosmik, akan terus berlanjut sampai dihentikan. Dan ketiganya, dalam tradisi peradaban dari mana mereka diambil, pada akhirnya menghadapi perhitungan mereka: Sudarshana Chakra Sisupala, perlindungan ilahi dari Surah Al- Falaq, koin-koin kosong dari sistem yang korup. Hak untuk Menamai Tindakan menamai bukanlah agresi. Itu adalah prasyarat akuntabilitas. Ketika Imam Ali (RA) menamai kemunafikan sebagai penyakit spiritual, ketika para Pandawa menamai perilaku Duryodhana sebagai adharma, ketika Nabi Muhammad (SAW) mengidentifikasi kategori-kategori bahaya yang darinya perlindungan harus dimohon, mereka sedang menjalankan tindakan kecerdasan moral yang paling mendasar: penolakan untuk membiarkan perilaku berbahaya beroperasi tanpa nama, tanpa kerangka, tanpa konsekuensi. Istilah Sisupalan, Hasidin, dan Ashabul Fomo ditawarkan dalam semangat itu. Mereka adalah alat presisi, bukan makian kebencian. Mereka memungkinkan kita untuk mengatakan: pola perilaku ini telah dikenali di berbagai peradaban, telah dinamai oleh tradisi-tradisi pemikiran moral manusia yang paling bijaksana, dan membawa dalam dirinya benih-benih perhitungannya sendiri. Orang yang menjadi sasaran tidaklah sendirian. Alam semesta telah melihat hal ini sebelumnya. Dan pada akhirnya, sebagaimana dalam Sabha Parva, sebagaimana dalam Al-Falaq, sebagaimana dalam Al-Kahf, orang yang bertahan dengan integritas akan melampaui orang yang mempertontonkan kedengkian. Rahmatan lil Alamin. Berikut hashtag Anda dengan spasi ditambahkan di antaranya: #Sisupalan #Hasidin #AshabululFomo #RahmatiLilAlamin #Basudewakrishna #Mahabharata #AlFalag #AlKaht #AshabululKahh #Quran #IslamicScholarship #SanskritEpic #Sisupala #Krishna #Hasad #Envy #FOMO #DigitalHarassment #Accountability #Bowobharata #Infraloka #RahmatHidayat #LegalTech #SomasiAsAService #Indonesia #Dharma #CorporateAccountability #ComparativeReligion #IslamicEthics #HinduPhilosophy #WorkplaceHarassment #NamingHarm #MoralLexicon #SurahAlFalaq #SurahAlKahf #Mujaddid #Adharma #DigitalEthics #1TB #Cloudinfrastructure #AIEthics